Ketika AI Menguji Etika Belajar Bukan Sekadar Kemampuan Teknis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Perdebatan tentang AI sering terjebak pada aspek teknis. Fokus diarahkan pada kemampuan menjawab dan meniru. Padahal persoalan utamanya bersifat etis. AI tidak hanya mengubah cara memperoleh informasi. Ia menguji cara kita memaknai usaha dan kejujuran. Dalam ujian ini, teknologi berperan sebagai pemicu refleksi. Ia mempercepat pertanyaan yang selama ini dihindari. Pertanyaan tentang nilai belajar menjadi semakin mendesak. AI memaksa kita bercermin pada etika sendiri.
Etika belajar berkaitan dengan niat dan proses. Ketika AI digunakan tanpa refleksi, proses berpikir terpinggirkan. Namun ketika digunakan secara sadar, AI dapat memperkaya pemahaman. Perbedaannya terletak pada orientasi. Orientasi pada hasil menciptakan ketergantungan. Orientasi pada proses mendorong kemandirian.
AI mengungkap kecenderungan pragmatis dalam belajar. Keinginan untuk cepat selesai sering mengalahkan keinginan untuk memahami. Dalam situasi ini, AI menjadi simbol efisiensi. Namun efisiensi tanpa makna menghasilkan kekosongan intelektual. Kekosongan ini hanya bisa diisi dengan refleksi etis.
Etika belajar juga berkaitan dengan tanggung jawab personal. AI tidak memiliki tanggung jawab moral. Tanggung jawab sepenuhnya berada pada pengguna. Setiap penggunaan AI mencerminkan sikap terhadap belajar. Sikap ini membentuk karakter intelektual jangka panjang.
Dalam konteks ini, larangan bukan solusi utama. Larangan hanya memindahkan persoalan ke ruang tersembunyi. Etika belajar tumbuh melalui kesadaran, bukan ketakutan. AI justru membuka ruang diskusi tentang nilai belajar yang autentik. Diskusi ini lebih penting daripada kontrol semata.
AI juga menantang cara kita menilai usaha. Usaha tidak lagi diukur dari kesulitan teknis, tetapi dari kedalaman refleksi. Refleksi tidak bisa diotomatisasi. Ia membutuhkan keterlibatan batin. Di sinilah AI berhenti dan manusia mengambil alih.
Pada akhirnya, AI menguji etika belajar lebih dari kemampuan teknis. Ia memperjelas pilihan antara berpikir dan sekadar menghasilkan. Dalam ujian ini, integritas belajar menjadi penentu utama.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah