Ketika Angka Tinggi Menjadi Beban Psikologis
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Prestasi akademik yang tampak gemilang sering kali dipersepsikan sebagai bukti keberhasilan personal, padahal di balik angka tinggi tersebut tersembunyi tekanan psikologis yang tidak selalu terlihat dan jarang dibicarakan secara terbuka. Banyak individu merasa harus terus mempertahankan performa agar citra cerdas tidak runtuh. Tekanan ini tumbuh secara perlahan namun konsisten. Prestasi yang awalnya membanggakan berubah menjadi sumber kecemasan. Kegagalan kecil terasa seperti ancaman besar. Ruang untuk belajar dari kesalahan semakin menyempit. Angka akhirnya mengendalikan cara berpikir dan bertindak.
Budaya capaian tinggi menciptakan standar ideal yang sering kali tidak realistis. Ketika hampir semua orang dituntut berada pada level yang sama, perbedaan kemampuan menjadi sesuatu yang harus disembunyikan. Rasa takut dianggap tidak kompeten membuat banyak individu enggan mengambil risiko intelektual. Mereka memilih jalur aman yang menjamin nilai stabil. Tantangan yang memerlukan eksplorasi mendalam dihindari. Proses belajar kehilangan unsur keberanian. Prestasi tidak lagi memberi rasa aman, melainkan rasa terancam.
Tekanan psikologis ini berdampak langsung pada kualitas pembelajaran. Fokus berpindah dari pemahaman ke strategi bertahan. Banyak individu belajar untuk lulus penilaian, bukan untuk menguasai pengetahuan. Proses refleksi digantikan oleh hafalan selektif. Diskusi kritis dianggap berbahaya jika berpotensi memunculkan kesalahan. Ketegangan mental menghambat kreativitas. Pikiran bekerja dalam mode defensif. Dalam kondisi seperti ini, potensi intelektual sulit berkembang secara optimal.
Lebih jauh, beban mempertahankan prestasi tinggi memengaruhi relasi sosial akademik. Kompetisi terselubung menjadi hal yang lumrah. Keberhasilan orang lain tidak selalu disambut dengan apresiasi, melainkan dengan kecemasan tersendiri. Lingkungan belajar kehilangan nuansa kolaboratif. Diskusi berubah menjadi ajang pembuktian diri. Kerja sama sering kali bersifat strategis, bukan tulus. Tekanan kolektif ini memperkuat siklus stres. Prestasi menjadi alat pembanding yang melelahkan.
Dampak jangka panjang dari tekanan ini tidak bisa diremehkan. Banyak individu mengalami kelelahan mental yang berkepanjangan. Motivasi belajar menurun meski prestasi tetap tinggi. Rasa jenuh dan kehilangan makna mulai muncul. Prestasi tidak lagi memberi kepuasan batin. Bahkan ada yang merasa terjebak dalam identitas akademik yang sempit. Mereka takut mencoba hal baru di luar zona aman. Angka tinggi justru membatasi ruang eksplorasi diri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa inflasi nilai bukan hanya persoalan kualitas kompetensi, tetapi juga kesehatan psikologis. Ketika prestasi tinggi menjadi standar umum, tekanan untuk mempertahankannya meningkat drastis. Sistem penilaian yang terlalu menekankan hasil akhir turut memperparah situasi. Tanpa ruang aman untuk gagal, proses belajar kehilangan fungsi edukatifnya. Akademik berubah menjadi arena pembuktian berkelanjutan. Individu dinilai dari konsistensi angka, bukan dari kedalaman berpikir.
Oleh karena itu, perlu ada pergeseran cara memandang prestasi akademik. Angka seharusnya menjadi alat refleksi, bukan sumber tekanan. Proses belajar perlu memberi ruang bagi kesalahan dan eksperimen. Prestasi tinggi harus dimaknai sebagai hasil pertumbuhan, bukan beban yang harus dijaga mati matian. Tanpa perubahan ini, budaya akademik akan terus melahirkan individu berprestasi namun rapuh secara psikologis. Dan pada akhirnya, kualitas intelektual yang diharapkan justru sulit terwujud
###
Penulis : Resinta Aini Zakiyah.