Ketika Dasar Tidak Kuat dan Dampaknya Menjalar ke Tingkat yang Lebih Tinggi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Deretan nilai TKA yang berada pada posisi mengkhawatirkan menjadi cermin bahwa tahap awal pembelajaran anak belum mendapatkan penguatan yang memadai. Banyak pihak mulai menyadari bahwa persoalan ini bukan sekadar soal hasil ujian tetapi refleksi dari proses panjang yang tidak tertata dengan baik sejak awal. Anak yang memasuki tahap evaluasi nasional ternyata belum memiliki kesiapan kognitif dan kecakapan dasar yang seharusnya dibangun secara konsisten. Jika kondisi ini terus dibiarkan maka kualitas pembelajaran pada tahap berikutnya akan terus terbebani oleh kekurangan yang seharusnya dapat dicegah sejak dini. Situasi seperti ini menandakan adanya kesenjangan serius antara harapan dan kenyataan di lapangan. Dari sinilah mulai muncul tuntutan agar pembinaan awal benar benar dijadikan prioritas nyata. Tanpa itu sulit berharap terjadi peningkatan signifikan pada tingkat selanjutnya.
Rendahnya nilai tidak hanya menunjukkan lemahnya penguasaan materi dasar tetapi juga mengisyaratkan masalah dalam proses pembentukan cara berpikir anak. Mereka membutuhkan pemahaman mendalam bukan sekadar hafalan sementara proses pembinaan selama ini sering kali tidak memberi ruang yang cukup untuk pengembangan tersebut. Ketika kemampuan berpikir kritis dan logika dasar tidak berkembang maka hasil pengukuran kemampuan tingkat tinggi akan semakin sulit dicapai. Kondisi ini menuntut pembenahan menyeluruh agar pembinaan awal tidak hanya bersifat administratif tetapi benar benar memfokuskan penguatan kapasitas inti anak. Dengan perubahan itu diharapkan fondasi mereka menjadi lebih kuat. Fondasi yang kuat akan menjadi pijakan bagi peningkatan mutu di level selanjutnya. Jika aspek ini diabaikan maka siklus kegagalan hanya akan berulang.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa pembinaan dasar tidak boleh dianggap sebagai tahap yang sekadar dilalui tanpa strategi jelas. Tahap awal sebenarnya adalah titik penentu keberhasilan jangka panjang yang membutuhkan dukungan profesional perencanaan matang serta perhatian serius. Jika fase ini diperlakukan seadanya maka tidak mengherankan jika hasil yang muncul jauh dari ekspektasi. Dalam situasi seperti ini nilai TKA yang rendah seharusnya tidak hanya dianggap sebagai angka memalukan tetapi sebagai peringatan keras. Peringatan tersebut menegaskan bahwa pembenahan fondasi adalah kebutuhan mendesak. Dengan kesadaran itu maka perbaikan dapat dimulai dari hal yang paling mendasar. Dari sinilah masa depan pembelajaran yang lebih baik dapat dibangun.
Rendahnya capaian ini juga perlu dipahami dalam kerangka yang lebih luas yaitu kesiapan bangsa menghadapi persaingan global. Jika generasi muda tidak memiliki kekuatan berpikir sejak tahap awal maka sulit bagi mereka untuk menembus berbagai tantangan kompetitif di kemudian hari. Oleh karena itu pembenahan tidak boleh ditunda atau hanya berhenti pada diskusi panjang tanpa realisasi. Diperlukan langkah yang terukur sistematis dan berkelanjutan agar setiap anak memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang optimal. Dengan cara inilah nilai evaluasi nasional dapat secara bertahap membaik. Lebih penting lagi kepercayaan diri generasi muda dapat kembali tumbuh. Ini merupakan tanggung jawab bersama yang tidak bisa diabaikan.
Pada akhirnya penurunan nilai TKA seharusnya dibaca sebagai panggilan untuk memperkuat kembali pondasi awal pembelajaran nasional. Ketika fondasi kuat maka bangunan selanjutnya akan berdiri lebih kokoh dan stabil. Anak bukan hanya mengejar keberhasilan angka tetapi juga menguasai kemampuan yang benar benar bermakna bagi hidupnya. Jika proses ini dapat dijalankan dengan komitmen yang konsisten maka krisis nilai bukan lagi menjadi ancaman tetapi titik awal perubahan besar. Dengan demikian masa depan kualitas pembelajaran Indonesia masih memiliki harapan yang kuat. Harapan itu bergantung pada keberanian untuk melakukan pembenahan sejak tahap yang paling mendasar.
Penulis: Resinta Aini Zakiyah