Ketika Kualitas Penguatan Dasar Menentukan Daya Saing Masa Depan
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Gelombang keprihatinan muncul ketika laporan rerata nilai TKA Indonesia menunjukkan penurunan yang signifikan dan meninggalkan jejak kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan. Banyak pihak kemudian bertanya bagaimana mungkin generasi yang diharapkan mampu bersaing di masa depan justru terlihat tertatih karena kelemahan pada fondasi dasarnya. Situasi ini menunjukkan bahwa tahap awal pembinaan anak belum ditempatkan setara dengan urgensi strategisnya meskipun fase tersebut merupakan penentu keberhasilan jangka panjang. Dari masa awal inilah kemampuan analitis dasar, kecakapan memahami informasi, serta kebiasaan berpikir terstruktur mulai ditempa dan diarahkan. Ketika fondasi ini rapuh, setiap langkah berikutnya akan terasa berat dan tidak stabil. Apa yang tampak dalam hasil TKA sebenarnya bukan kejutan, melainkan cermin dari proses panjang yang terabaikan. Pada titik inilah bangsa dituntut mengubah cara pandang agar keseriusan terhadap fase awal tidak hanya berhenti pada retorika.
Rendahnya nilai TKA bukan sekadar menunjukkan kelemahan akademik, melainkan juga menggambarkan ketidaksiapan mental anak saat menghadapi tantangan belajar yang menuntut ketekunan dan kepercayaan diri. Mereka memasuki tahap evaluasi dengan bekal yang belum matang sementara standar pengukuran menuntut kemampuan yang jauh lebih tinggi. Ketidakseimbangan seperti ini menimbulkan tekanan dan dapat mengikis semangat belajar yang seharusnya tumbuh secara alami. Jika kondisi ini dibiarkan, dampaknya tidak hanya terasa pada nilai, tetapi juga pada ketangguhan karakter serta daya juang generasi mendatang. Karena itu, persoalan ini harus ditangani dari akarnya dengan memperkuat fase dasar secara sistematis dan konsisten. Anak tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai penerima kebijakan, tetapi sebagai pusat perhatian utama yang berhak atas dukungan terbaik. Dari penguatan inilah daya saing masa depan sebenarnya dibangun.
Situasi yang muncul ini sekaligus menegaskan bahwa investasi pada tahap dasar bukan sekadar formalitas administratif, melainkan kebutuhan strategis bagi keberlangsungan bangsa. Banyak negara menunjukkan keberhasilan besar karena menitikberatkan pembangunan manusia pada fase awal, bukan hanya pada tahap akhir. Mereka memahami bahwa keberhasilan jangka panjang selalu bertumpu pada fondasi yang kokoh dan terencana. Sebaliknya, ketika fase awal diabaikan, berbagai kebijakan lanjutan tidak akan memberi dampak maksimal karena dibangun di atas dasar yang lemah. Inilah pelajaran penting yang seharusnya disadari secara serius. Pembinaan dasar perlu dirancang untuk membentuk kekuatan berpikir, ketahanan mental, dan kesadaran belajar yang stabil. Dengan cara inilah kualitas generasi dapat terjaga secara berkelanjutan dan tidak mudah terguncang oleh perubahan.
Penurunan nilai TKA juga seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat sinergi berbagai pihak dalam memastikan setiap anak memperoleh hak atas pembinaan bermutu. Mereka membutuhkan ruang tumbuh yang mendorong keberanian berpikir, mengembangkan rasa ingin tahu, dan memberikan dukungan emosional yang menenangkan. Ketika kedua aspek, kognitif dan emosional, berjalan seimbang, maka kesiapan menghadapi berbagai bentuk evaluasi akan semakin baik. Anak tidak lagi melihat penilaian sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan menunjukkan kemampuan yang telah diasah dengan baik. Jika sinergi ini mampu diwujudkan, maka peningkatan kualitas bukan lagi sekadar angan, melainkan perubahan nyata yang dapat disaksikan bersama. Dengan demikian, kepercayaan diri bangsa dalam memandang masa depan akan semakin kuat.
Pada akhirnya penurunan nilai TKA harus dibaca sebagai pesan yang menegaskan bahwa masa depan tidak mungkin dibangun di atas fondasi yang rapuh. Penguatan tahap dasar merupakan kunci utama yang menentukan arah perjalanan generasi berikutnya. Jika tahap ini digarap dengan sungguh sungguh dan konsisten, berbagai bentuk evaluasi bukan lagi menjadi momok menakutkan, melainkan tolok ukur wajar dari sebuah proses yang kokoh. Dengan demikian, bangsa tidak hanya bertahan, tetapi mampu berdiri tegak dengan kebanggaan yang lahir dari kesiapan nyata. Dari sinilah daya saing sejati tumbuh dan bertahan. Sebuah masa depan yang kuat selalu dimulai dari fondasi yang benar benar diperhatikan.
Penulis: Resinta Aini Zakiyah