Ketika Persoalan Nilai Menggambarkan Kerapuhan Sistem Persiapan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Laporan rendahnya nilai matematika dan bahasa Inggris dalam TKA mengungkap kenyataan bahwa masih ada masalah mendasar yang belum terselesaikan pada tahap awal pembinaan anak. Hasil ini bukan sekadar angka tetapi cermin dari proses panjang yang memerlukan evaluasi serius. Banyak anak menghadapi penilaian dengan kesiapan yang belum memadai sehingga mengalami kesulitan menjawab tuntutan kemampuan yang diharapkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembinaan tahap awal belum dirancang secara maksimal untuk mempersiapkan anak menghadapi dunia yang semakin kompetitif. Dalam konteks inilah hasil TKA harus dibaca sebagai peringatan penting.
Rendahnya nilai matematika memperlihatkan bahwa kemampuan bernalar, memahami hubungan logis, serta kecakapan menyelesaikan persoalan belum terbentuk secara kokoh. Padahal kemampuan ini menjadi inti dalam membangun pola pikir rasional dan kritis. Ketika kemampuan ini lemah maka kesulitan belajar akan terus mengikuti. Situasi ini tentu tidak boleh terus berulang karena menyangkut masa depan generasi bangsa. Oleh sebab itu penguatan numerasi seharusnya diposisikan sebagai kebutuhan strategis. Dengan begitu pembinaan logika dapat berjalan lebih terarah.
Pada sisi lain nilai bahasa Inggris yang rendah menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa global belum terbangun secara memadai sejak awal. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, kemampuan ini menjadi kunci penting membuka akses pengetahuan dan peluang masa depan. Ketika kemampuan bahasa lemah maka anak akan menghadapi keterbatasan dalam memahami informasi dunia. Nilai rendah ini menjadi pengingat bahwa dukungan terhadap penguatan literasi bahasa internasional perlu ditingkatkan. Pembiasaan yang konsisten akan membantu anak membangun kepercayaan diri dalam berbahasa. Dari kepercayaan diri inilah kemampuan bahasa berkembang lebih baik.
Fenomena ini semakin menegaskan bahwa pembinaan tahap dasar harus ditempatkan sebagai prioritas strategis. Jika tahap ini kuat maka perjalanan belajar selanjutnya akan lebih stabil dan tidak terlalu terbebani. Sebaliknya jika fondasi rapuh maka berbagai kebijakan lanjutan tidak akan memberi dampak maksimal. Oleh karena itu diperlukan perubahan cara pandang agar tahap dasar benar benar dianggap sebagai pondasi masa depan bangsa. Dengan dasar yang kuat maka masalah nilai rendah dapat diminimalkan di masa mendatang.
Nilai rendah juga mengisyaratkan bahwa pendekatan pembinaan perlu lebih bermakna dan berorientasi pada penguatan kemampuan inti anak. Proses yang hanya mengejar rutinitas tanpa kedalaman pemahaman sulit menghasilkan capaian yang kokoh. Anak membutuhkan pengalaman yang memberi ruang berpikir, bertanya, dan memahami makna dari apa yang dipelajari. Ketika kebutuhan ini terpenuhi maka kemampuan matematika dan bahasa akan berkembang secara lebih alami.
Situasi ini juga mengingatkan bahwa membangun generasi unggul merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa kesadaran kolektif upaya memperkuat fondasi akan berjalan setengah hati. Kolaborasi berbagai pihak akan membantu menghadirkan dukungan yang lebih menyeluruh bagi anak.
Jika keselarasan ini tercipta maka perubahan positif bukan lagi sekadar harapan. Perubahan itu dapat menjadi kenyataan yang nyata dirasakan. Pada akhirnya hasil TKA yang rendah dapat berubah menjadi momentum kebangkitan kesadaran bersama. Hasilnya akan terlihat pada stabilitas capaian dan sikap positif terhadap belajar. Inilah arah pembenahan yang perlu diperkuat.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah