Ketika Sekolah Dasar Kehilangan Makna Ruang Aman bagi Anak
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Sekolah dasar seharusnya menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan belajar. Namun, berbagai kasus kekerasan, perundungan, dan diskriminasi menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya aman. Isu ini semakin sering muncul dalam pemberitaan dan media sosial. Anak-anak menjadi korban, tetapi suara mereka sering tidak terdengar. Pendidikan dasar menghadapi krisis kepercayaan dari masyarakat.
Perundungan di sekolah dasar sering dianggap sebagai bagian dari proses tumbuh kembang anak. Pandangan ini berbahaya karena menormalisasi kekerasan. Banyak guru dan orang tua belum memiliki perspektif perlindungan anak yang kuat. Akibatnya, kasus-kasus perundungan tidak tertangani secara serius. Anak korban justru diminta untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak adil.
Selain perundungan, tekanan akademik juga menjadi masalah. Kurikulum yang padat dan tuntutan capaian sering mengabaikan kebutuhan emosional anak. Anak-anak SD dipaksa dewasa sebelum waktunya. Sekolah berubah menjadi ruang kompetisi, bukan ruang pembelajaran yang menyenangkan. Kondisi ini berdampak pada kesehatan mental anak.
Isu ini semakin kompleks ketika dikaitkan dengan latar belakang sosial ekonomi keluarga. Anak-anak dari kelompok rentan sering mengalami diskriminasi di sekolah. Pendidikan dasar seharusnya menjadi alat mobilitas sosial, bukan reproduksi ketimpangan. Sekolah perlu mengembangkan budaya inklusif dan empatik. Nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi inti pendidikan.
Mengembalikan sekolah dasar sebagai ruang aman membutuhkan komitmen bersama. Guru, kepala sekolah, orang tua, dan pembuat kebijakan harus bekerja sama. Pendidikan karakter tidak cukup diajarkan, tetapi harus dipraktikkan. Anak-anak berhak merasa aman, dihargai, dan didengar. Tanpa itu, pendidikan dasar kehilangan ruhnya.
####
Penulis: Aida Meilina