Ketika Sekolah Menyentuh Langit: Sensor Cuaca Digital Masuk Pembelajaran Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Sekolah dasar kini mulai memanfaatkan sensor cuaca digital sederhana untuk meningkatkan literasi iklim siswa. Perangkat seperti pengukur suhu, kelembapan, dan arah angin menjadi sarana belajar yang menarik dan berbasis data nyata. Siswa tidak lagi hanya membaca prediksi cuaca, tetapi mengukurnya secara langsung melalui percobaan di sekolah. Pendekatan hands-on learning ini meningkatkan rasa ingin tahu sekaligus pemahaman ilmiah anak. Guru memfasilitasi diskusi tentang bagaimana data tersebut digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran ini sangat relevan dengan SDGs 13 terkait aksi iklim.
Penggunaan sensor digital membuat siswa belajar mengenali pola cuaca secara lebih objektif. Mereka diajak mencatat data selama beberapa hari untuk melihat perubahan cuaca yang terjadi. Data tersebut kemudian diolah menjadi grafik sederhana menggunakan alat digital yang sudah mereka kenal. Pendekatan ini mendorong literasi numerasi sekaligus literasi digital. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk membandingkan data sensor dengan prediksi cuaca online. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih interaktif dan berorientasi pada pemecahan masalah.
Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana teknologi mendukung kehidupan manusia. Guru menjelaskan bagaimana sensor cuaca digunakan dalam pertanian, penerbangan, hingga mitigasi bencana. Penjelasan tersebut membuat siswa memahami bahwa cuaca bukan sekadar informasi harian, tetapi bagian penting dalam sistem peringatan dini. Anak-anak diajak menganalisis bagaimana teknologi membantu masyarakat menghadapi perubahan iklim. Hal ini menjadi jembatan untuk memahami aplikasi sains dalam kehidupan. Sekolah pun berperan penting menanamkan kesiapsiagaan sejak dini.
Selain menumbuhkan literasi iklim, penggunaan sensor cuaca melatih kemampuan berpikir kritis. Siswa membandingkan hasil pengukuran mereka sendiri dengan data sebelumnya untuk melihat pola yang tidak biasa. Guru membantu siswa menafsirkan anomali dan menghubungkannya dengan isu global seperti pemanasan global. Diskusi ini membuat siswa mulai sadar bahwa perubahan iklim bukan sekadar konsep abstrak. Mereka belajar bahwa data lokal dapat membantu memahami fenomena global. Proses ini mendorong anak lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Di akhir kegiatan, siswa mempresentasikan temuan mereka di depan kelas. Presentasi tersebut melatih keterampilan komunikasi dan kolaborasi. Mereka belajar menyajikan data dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Guru memberikan apresiasi untuk setiap proyek sebagai bentuk penguatan motivasi belajar. Dengan inovasi ini, sekolah dasar membuktikan bahwa literasi cuaca dapat dikembangkan melalui pendekatan ilmiah yang sederhana namun bermakna. Dan yang terpenting, siswa belajar bahwa mereka adalah bagian dari solusi iklim global.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_PanturaNews