Ketimpangan Literasi Numerasi: Jurang Antar-Daerah yang Meledak di Hasil TKA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Hasil TKA tahun ini memperlihatkan jurang kualitas yang sangat lebar antara siswa di pusat perkotaan dengan daerah tertinggal, sebuah refleksi dari kegagalan pemerataan mutu di jenjang Sekolah Dasar. Sebagian besar nilai yang jatuh berasal dari daerah-daerah yang akses terhadap buku bermutu dan guru berkompeten di tingkat dasar masih sangat minim dan tidak merata. Fenomena ini menunjukkan bahwa pengabaian terhadap standar mutu SD di wilayah marginal telah menjadi bom waktu yang akhirnya meledak dalam bentuk skor TKA yang mengecewakan secara agregat nasional. Ketimpangan ini bukan hanya masalah pendidikan semata, melainkan masalah keadilan sosial dan kedaulatan intelektual bangsa.
Di banyak sekolah dasar di pelosok, literasi dan numerasi sering kali diajarkan seadanya tanpa alat peraga atau metode yang memadai untuk membangun konsep dasar yang kuat. Siswa di daerah ini harus berjuang melawan keterbatasan fasilitas sambil tetap dituntut memenuhi standar ujian yang sama dengan siswa di kota besar yang memiliki akses melimpah. Ketidakadilan kualitas di tingkat SD ini menciptakan siklus kemiskinan intelektual yang sulit diputus, karena siswa dari daerah tertinggal sudah "kalah" sejak langkah pertama pendidikan mereka dimulai. Tanpa intervensi khusus untuk memperkuat SD di daerah marginal, skor TKA nasional akan selalu terbebani oleh ketidaktercapaian kompetensi di wilayah tersebut.
Kebijakan pemerataan pendidikan harus segera bergeser dari sekadar pembangunan fisik gedung sekolah menjadi pemerataan kualitas sumber daya manusia dan akses informasi berkualitas. Pemerintah perlu memberikan insentif luar biasa dan fasilitas pendukung bagi guru-guru terbaik agar bersedia mengabdi di SD pelosok demi menjamin kesetaraan kualitas fondasi pendidikan. Skor TKA yang jeblok adalah alarm keras bahwa kita tidak bisa membangun puncak menara pendidikan yang indah jika dasarnya di berbagai daerah masih sangat rapuh. Hanya dengan menutup jurang kualitas di tingkat dasar, kita dapat mewujudkan integrasi kualitas intelektual nasional yang sejati dan kompetitif.
Ketimpangan ini juga diperparah oleh kurangnya bahan bacaan yang relevan dan menarik bagi siswa di daerah terpencil, yang mengakibatkan rendahnya minat baca sejak usia dini. Literasi bukan hanya soal kemampuan membaca huruf, tetapi soal akses terhadap beragam ide yang mampu membuka cakrawala berpikir anak. Di daerah dengan perpustakaan sekolah yang kosong, jangan harap kita bisa mendapatkan skor literasi tinggi dalam TKA di masa depan. Diperlukan gerakan redistribusi buku nasional yang sistematis untuk memastikan setiap anak di SD pelosok memegang buku berkualitas di tangan mereka.
Selain itu, digitalisasi pendidikan di daerah terpencil sering kali hanya menyentuh aspek pengadaan perangkat keras tanpa disertai dengan infrastruktur internet dan konten pembelajaran yang memadai. Akibatnya, teknologi justru menciptakan beban baru atau tidak terpakai secara optimal untuk meningkatkan kemampuan numerasi dan literasi siswa. Perlu ada desain pembelajaran digital khusus yang sesuai dengan konteks daerah namun tetap mampu memberikan standar logika matematika yang sama dengan standar perkotaan. Sinergi antara teknologi tepat guna dan pedagogi yang kuat akan menjadi kunci dalam memperkecil jurang prestasi akademik nasional.
Sebagai penutup, rerata nilai TKA yang rendah adalah cerminan dari ketidakterurusan kita terhadap pendidikan dasar di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan. Kita tidak boleh membiarkan potensi jutaan anak Indonesia layu hanya karena mereka lahir di tempat dengan akses pendidikan yang minim. Pemerataan mutu pendidikan dasar harus dipandang sebagai investasi keamanan dan kemakmuran nasional jangka panjang. Mari kita bangun fondasi pendidikan yang kokoh dan merata di setiap sudut nusantara agar Indonesia Emas bukan sekadar slogan, melainkan realitas kognitif yang merata di seluruh tanah air.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah