Komite Cilik Siaga: Anak SD Belajar Menghadapi Cuaca Ekstrem, Perkuat Komunitas Tangguh SDG 11
s2dikdas.fip.unesa.ac.id,
Surabaya — Perubahan iklim telah meningkatkan frekuensi dan intensitas cuaca
ekstrem, menjadikan pengetahuan mitigasi sebagai keahlian wajib. Siswa sekolah
dasar kini terlibat dalam diskusi mendalam mengenai ancaman cuaca ekstrem dan
langkah-langkah keselamatan diri yang harus diambil. Pertukaran pikiran yang
kritis ini membentuk mental tangguh dan kesadaran kolektif, selaras dengan
Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 11, yaitu Kota dan Komunitas
Berkelanjutan.
Diskusi
ini membahas berbagai skenario, mulai dari angin puting beliung, banjir
bandang, hingga gelombang panas yang membahayakan. Anak-anak didorong untuk
mengemukakan pengalaman atau cerita yang mereka dengar, kemudian memverifikasi
fakta dan mencari solusi penanganan yang paling aman dan rasional.
Inti
dari aktivitas ini adalah memahami rantai komando dan evakuasi saat bencana.
Siswa belajar bahwa tindakan individu yang tepat, seperti berlindung di tempat
yang kokoh saat gempa atau menjauhi pohon saat badai, adalah kontribusi besar
bagi keselamatan kolektif dan mengurangi beban tim penyelamat.
Inisiatif
ini telah berhasil mengubah ketakutan terhadap cuaca ekstrem menjadi kesiapsiagaan.
Anak-anak mampu membedakan antara kepanikan dan respons cepat yang terukur. Diskusi
terbuka ini menanamkan rasa tanggung jawab, tidak hanya pada diri sendiri,
tetapi juga pada keselamatan anggota keluarga dan teman sebaya.
Di
lingkungan sekolah, hasil diskusi ini seringkali diwujudkan menjadi peta
evakuasi darurat yang didesain ulang agar lebih mudah dipahami oleh anak-anak.
Mereka menjadi perancang prosedur keselamatan yang inklusif dan ramah anak.
Jelas
bahwa diskusi tentang cuaca ekstrem dan keselamatan diri adalah metode efektif
untuk menanamkan literasi bencana sejak dini. Siswa sekolah dasar ini
dipersiapkan untuk menjadi individu yang tenang dan cepat bertindak dalam
situasi kritis. Harapannya, pengetahuan mitigasi ini akan terus menjadi modal
penting dalam membangun komunitas yang tangguh.
###
Penulis: Sevian Ageng Wahono