Kompos Cinta Alam Pendidikan Karakter melalui Kegiatan Berbasis Sampah SD
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pengolahan sampah menjadi kompos menjadi inti pendidikan karakter cinta alam di sekolah dasar. Program ini mengubah limbah organik rumah tangga dan kantin menjadi pupuk organik berkualitas tinggi. Siswa belajar siklus pengomposan dari pemilahan hingga aplikasi di taman sekolah. Pendekatan hands-on ini membangun pemahaman mendalam tentang daur ulang nutrisi alam. Guru mengintegrasikan proses kompos dengan pelajaran IPA, matematika, dan pendidikan karakter. Setiap ember kompos diberi nama kelas untuk membangun rasa memiliki. Cinta alam tumbuh melalui kompos yang mereka hasilkan sendiri.
Tahapan pembuatan kompos diajarkan secara bertingkat sesuai usia siswa. Kelas 1 belajar pemilahan sampah organik, kelas 2-3 pencampuran dengan dedaunan kering, kelas 4-6 pengadukan dan pemantauan suhu. Siswa mencatat data suhu, kelembaban, dan aroma kompos mingguan. Proses ilmiah sederhana ini melatih metodologi penelitian dasar. Aplikasi kompos di taman sekolah menjadi demonstrasi hasil nyata. Panen sayur organik dijual untuk dana kelas lingkungan. Pengalaman sukses menciptakan siklus cinta alam yang berkelanjutan.
Laboratorium kompos sekolah dilengkapi 20 ember fermentasi, shredder manual, dan area pengeringan. Sistem irigasi tetes otomatis menjaga kelembaban kompos optimal. Siswa bertugas rotasi sebagai "petani kompos" mingguan. Papan digital menampilkan data produksi kompos harian dan aplikasi taman. Orang tua menyumbang sampah organik rumah tangga untuk program. Kompetisi kompos tercepat antar kelas memicu inovasi teknik. Fasilitas ini menjadikan sekolah swasana mandiri sampah organik.
Produksi kompos mencapai 250 kg per bulan untuk kebutuhan taman sekolah dan penjualan komunitas. Pengurangan sampah organik sekolah 95 persen dengan nol sampah ke TPA. Pendapatan kompos mendanai 70 persen program lingkungan sekolah. Penghargaan zero waste school nasional diperoleh tahun kedua program. Siswa memimpin workshop kompos untuk 10 sekolah tetangga. Perilaku pemilahan sampah menjadi kebiasaan rumah tangga 85 persen siswa. Kompos menjadi simbol cinta alam yang konkret dan produktif.
Kesimpulannya, pendidikan karakter melalui kegiatan kompos sampah berhasil mengubah limbah menjadi cinta alam. Siswa mengalami transformasi dari konsumen menjadi produsen berkelanjutan. Model ini layak diadopsi nasional dengan dukungan infrastruktur sederhana. Pendidikan berbasis kompos memperkaya pemahaman siklus alam holistik. Sekolah dasar menjadi pusat ekonomi sirkular mini. Generasi cinta alam lahir dari tangan yang mengolah sampah. Program ini menjawab tantangan pengelolaan limbah nasional secara inovatif.
Penulis : Kartika Natasya K.S