Krisis Iklim dan Pendidikan di Indonesia: Mengapa Pendidikan Lingkungan Belum Mendapat Perhatian yang Layak?
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Krisis iklim dan pendidikan adalah dua isu yang saling terkait erat dan memiliki dampak besar terhadap masa depan Indonesia. Di satu sisi, krisis iklim mengancam untuk menghancurkan kemajuan pendidikan yang telah dicapai dengan merusak infrastruktur sekolah, mengganggu proses pembelajaran akibat bencana alam, dan mempengaruhi kesehatan serta kesejahteraan siswa dan guru. Di sisi lain, pendidikan yang baik—terutama pendidikan lingkungan—adalah kunci untuk membangun generasi muda yang mampu mengatasi dan mengurangi dampak perubahan iklim. Namun, di Indonesia, pendidikan lingkungan masih belum mendapatkan perhatian yang layak sesuai dengan urgensi masalah yang dihadapi.
Kurangnya perhatian terhadap pendidikan lingkungan terlihat dari berbagai aspek sistem pendidikan Indonesia. Pertama, alokasi anggaran untuk pendidikan lingkungan sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan yang ada. Banyak sekolah tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli buku pelajaran terkait lingkungan, membangun fasilitas ramah lingkungan, atau mengadakan kegiatan pendidikan lingkungan yang praktis. Kedua, kurikulum nasional masih belum memberikan perhatian yang memadai pada materi lingkungan, dengan hanya sedikit jam pelajaran yang dialokasikan dan konten yang seringkali tidak relevan dengan kondisi lokal. Ketiga, kurangnya program pelatihan dan pengembangan profesional bagi guru untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengajar pendidikan lingkungan.
Beberapa faktor menjadi penyebab mengapa pendidikan lingkungan belum mendapatkan perhatian yang layak. Pertama, pandangan yang masih mendominasi bahwa pendidikan lingkungan adalah mata pelajaran yang “tidak penting” dan tidak berkontribusi pada kesuksesan akademik atau karir siswa. Banyak orang masih menganggap bahwa mata pelajaran seperti matematika, bahasa, dan IPA lebih penting karena dianggap lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja. Kedua, kurangnya pemahaman tentang hubungan antara pendidikan lingkungan dengan pembangunan berkelanjutan dan keamanan nasional. Banyak pihak tidak menyadari bahwa kerusakan lingkungan dapat menyebabkan konflik sosial, kerusakan ekonomi, dan ancaman terhadap keamanan pangan dan air di masa depan. Ketiga, kurangnya kepemimpinan politik yang kuat dalam memprioritaskan pendidikan lingkungan sebagai bagian dari solusi terhadap krisis iklim.
Di Kota Malang, kondisi ini juga tercermin dalam dunia pendidikan lokal. Meskipun terdapat beberapa inisiatif dari sekolah-sekolah tertentu dan organisasi masyarakat, sebagian besar sekolah masih tidak memberikan perhatian yang cukup pada pendidikan lingkungan. Banyak siswa yang lulus dari sekolah tanpa memiliki pemahaman yang cukup tentang masalah lingkungan lokal seperti polusi sungai Brantas, kerusakan hutan di Gunung Kawi, atau peningkatan volume sampah di kota. Padahal, dengan pendidikan lingkungan yang baik, siswa dapat menjadi agen perubahan yang aktif dalam mengatasi masalah ini dan membantu Malang menjadi kota yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Untuk memastikan bahwa pendidikan lingkungan mendapatkan perhatian yang layak di tengah krisis iklim, diperlukan aksi yang komprehensif dari semua pihak. Pemerintah perlu menetapkan kebijakan nasional yang menjadikan pendidikan lingkungan sebagai prioritas utama dalam sistem pendidikan dan mengalokasikan anggaran yang memadai untuk mendukungnya. Kurikulum perlu direvisi agar lebih relevan dengan kondisi lokal dan global, dengan penekanan pada pembelajaran praktis dan partisipatif. Guru perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan dan pengembangan profesional yang berkualitas dalam bidang pendidikan lingkungan. Selain itu, perlu ada kerja sama yang erat antara pemerintah, sekolah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta untuk mengembangkan program pendidikan lingkungan yang inovatif dan berkelanjutan. Di Indonesia, termasuk Kota Malang, ini dapat menjadi langkah awal yang penting untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi muda dan planet kita.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah