Krisis Iklim dan Relevansi Pendidikan Lingkungan di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Krisis iklim semakin nyata dan terasa melalui intensitas bencana di berbagai wilayah, termasuk Aceh dan Sumut. Peningkatan curah hujan ekstrem, banjir bandang, dan suhu tidak stabil telah menjadi pembelajaran langsung bagi masyarakat. Sekolah dasar perlu merespons kondisi ini dengan memasukkan pendidikan lingkungan sebagai bagian inti kurikulum. Anak perlu memahami bahwa perubahan iklim bukan fenomena jauh, tetapi sesuatu yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Literasi iklim sejak dini dapat membantu membentuk warga muda yang peduli keberlanjutan.
Pendidikan lingkungan tidak hanya berkutat pada teori, tetapi juga praktik sederhana seperti pengelolaan sampah, penghijauan, dan hemat energi. Ketika anak dilibatkan dalam aktivitas nyata, mereka lebih mudah memahami hubungan antara perilaku manusia dan dampak ekologis. Dalam konteks Aceh dan Sumut, kegiatan penanaman pohon dapat dihubungkan dengan upaya mencegah longsor dan erosi. Pembelajaran berbasis proyek membuat anak merasakan relevansi ilmu dengan kehidupan lokal. Dengan cara ini, sekolah memainkan peran penting dalam mitigasi perubahan iklim.
Guru perlu dipersiapkan untuk mampu mengintegrasikan isu-isu iklim ke dalam berbagai mata pelajaran. Matematika dapat digunakan untuk menghitung curah hujan, IPS untuk memahami dampak sosial ekonomi perubahan iklim, dan Bahasa Indonesia untuk menulis kampanye lingkungan. Pendekatan lintas disiplin ini memperluas cakrawala berpikir anak. Lebih jauh lagi, integrasi isu iklim menanamkan nilai tanggung jawab global. Hal ini sejalan dengan agenda pendidikan abad 21 dan SDGs.
Isu lingkungan juga terkait erat dengan pembangunan karakter anak, terutama dalam hal empati dan kepedulian sosial. Ketika anak belajar tentang dampak bencana pada masyarakat, mereka memahami pentingnya solidaritas. Aktivitas seperti penggalangan dana untuk korban banjir di Sumut dapat memperkuat rasa kemanusiaan. Pendidikan seperti ini menempatkan anak sebagai bagian dari ekosistem sosial yang lebih luas. Dengan demikian, pendidikan lingkungan berkontribusi membentuk identitas moral siswa.
Pendidikan lingkungan yang kuat di sekolah dasar merupakan langkah awal mencetak generasi melek iklim. Ketika anak memahami keterkaitan antara alam dan aktivitas manusia, mereka tumbuh menjadi warga yang lebih bertanggung jawab. Pemerintah dan sekolah harus berkomitmen memperkuat kurikulum, pelatihan guru, dan fasilitas pembelajaran ramah lingkungan. Investasi ini mungkin tidak terasa instan, tetapi dampaknya sangat besar bagi masa depan bangsa. Dalam kondisi krisis iklim, pendidikan menjadi benteng terakhir dan terkuat.
####
Penulis: Aida Meilina