Literasi dari Narasi Tekstual Menuju Visual serta Implikasinya terhadap Standar PISA
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Dunia saat ini sedang menyaksikan transformasi
literasi yang sangat drastis dari dominasi narasi tekstual beralih menuju
dominasi narasi visual yang dinamis. Pergeseran ini dipicu oleh kemunculan
berbagai platform media baru yang lebih mengedepankan aspek gambar dan video
sebagai alat komunikasi utama antarindividu. Literasi konvensional yang
berfokus pada kemampuan membaca dan menulis teks kini mulai ditantang oleh
konsep literasi multimedia yang lebih kompleks. Perubahan ini membawa implikasi
yang sangat luas terhadap cara kita mendefinisikan standar kecakapan literasi
bagi generasi pelajar saat ini. Standar PISA yang selama ini menitikberatkan
pada pemahaman teks tulis mulai dipandang perlu untuk melakukan adaptasi
terhadap realitas komunikasi visual yang ada. Namun, transisi ini tidak boleh
mengabaikan esensi dari kemampuan berpikir logis yang biasanya diasah melalui
media teks yang terstruktur.
Transformasi ke arah visual sering
kali dianggap lebih menarik bagi pelajar karena sifatnya yang lebih
representatif dan lebih mudah untuk dicerna secara emosional. Gambar dan video
mampu menyampaikan pesan dalam waktu singkat, namun sering kali kehilangan
detail-detail penting yang hanya bisa dijelaskan melalui kata-kata. Hal ini
menimbulkan tantangan bagi standar PISA yang menuntut siswa untuk mampu
menginterpretasikan makna tersirat dari sebuah paragraf yang padat informasi.
Jika siswa hanya terbiasa dengan literasi visual, mereka mungkin akan mengalami
kegagalan saat diminta untuk menyusun argumen tertulis yang panjang dan koheren.
Kelemahan dalam memahami struktur bahasa akan menghambat kemampuan siswa dalam
merumuskan kesimpulan yang valid dari data-data yang bersifat abstrak dan
kompleks. Oleh karena itu, keseimbangan antara literasi tekstual dan visual
menjadi hal yang sangat krusial dalam kurikulum pendidikan modern agar siswa
tetap kompetitif.
Implikasi dari transformasi ini juga
terlihat pada perubahan gaya belajar siswa yang kini lebih menyukai tutorial
video dibandingkan membaca buku panduan yang bersifat teknis. Meskipun hal ini
mempercepat proses pemahaman awal, namun pemahaman tersebut sering kali
bersifat prosedural belaka tanpa adanya kedalaman konseptual yang memadai.
Standar PISA mengukur kemampuan literasi pada tingkat yang lebih tinggi, yakni
kemampuan untuk menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi dari
berbagai sumber yang berbeda. Kemampuan evaluasi ini memerlukan ketelitian
dalam membaca setiap detail kata yang digunakan untuk membangun sebuah klaim
atau opini dalam teks. Jika literasi visual tidak dibarengi dengan literasi
tekstual yang kuat, maka siswa akan menjadi rentan terhadap manipulasi
informasi yang dikemas secara estetis di media sosial. Transformasi literasi
ini harus disikapi secara bijak dengan tetap mempertahankan porsi membaca teks
sebagai instrumen utama pengembangan nalar kritis siswa.
Para pendidik di Indonesia harus
mulai mengintegrasikan strategi pembelajaran yang mampu menjembatani narasi
visual dengan narasi tekstual secara harmonis di dalam kelas. Penggunaan
infografis atau video pendek sebagai pemantik diskusi dapat menjadi cara
efektif untuk menarik perhatian siswa sebelum mereka mendalami teks yang lebih
berat. Guru juga perlu melatih siswa untuk mampu mendekonstruksi pesan-pesan
visual secara kritis agar mereka tidak sekadar menjadi penonton yang pasif dan
mudah terpengaruh. Standar PISA sebenarnya telah mulai memasukkan unsur-unsur
literasi digital, namun inti dari penilaian tersebut tetap berpijak pada
kemampuan pemahaman teks yang mendalam. Oleh sebab itu, sekolah tetap memiliki
kewajiban moral untuk memastikan siswa memiliki keterampilan membaca yang
mumpuni di tengah gempuran konten visual. Keberhasilan dalam menghadapi
transformasi literasi ini akan menentukan sejauh mana generasi kita mampu
beradaptasi dengan perubahan zaman yang sangat cepat ini.
Ke depan, literasi harus dipahami
sebagai kemampuan multimodality yang mencakup berbagai bentuk representasi
informasi baik tekstual, visual, maupun auditori secara terpadu. Kita tidak
boleh terjebak dalam dikotomi yang saling meniadakan antara membaca buku dengan
menonton konten edukatif yang tersedia di internet secara luas. Keduanya harus
saling melengkapi untuk membentuk pemahaman yang utuh dan komprehensif bagi
setiap individu di era masyarakat informasi ini. Standar PISA akan terus
berevolusi untuk menangkap dinamika perubahan literasi global, namun kemampuan
dasar membaca tetap akan menjadi fondasi yang tak tergantikan. Dengan
memperkuat pemahaman teks di tengah gempuran narasi visual, kita tengah
mempersiapkan generasi yang memiliki kecerdasan yang seimbang secara
intelektual dan emosional. Inilah kunci utama untuk memenangkan persaingan
global dan meningkatkan martabat bangsa Indonesia di kancah internasional
melalui jalur pendidikan yang berkualitas.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma
Supardi.