Literasi Digital Anak di Era Mis/Disinformasi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Arus informasi yang semakin deras menyebabkan anak sekolah dasar terpapar konten digital sejak usia dini. Kasus hoaks terkait bencana Aceh dan Sumut menunjukkan bahwa disinformasi tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi juga anak. Oleh karena itu, literasi digital perlu diperkenalkan sejak sekolah dasar sebagai bekal untuk menavigasi dunia yang kompleks. Anak perlu belajar membedakan fakta, opini, dan manipulasi informasi. Bekal ini menjadi dasar penting dalam membangun kecakapan digital yang sehat.
Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan perangkat, tetapi juga kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang dikonsumsi. Guru perlu membuat kegiatan analisis sederhana, seperti membandingkan dua berita berbeda mengenai bencana. Melalui latihan tersebut, anak belajar melihat bias, mencari sumber kredibel, dan memahami konteks. Ini sejalan dengan kompetensi abad ke-21 yang menekankan kreativitas dan pemikiran kritis. Pendidikan dasar menjadi ruang awal pembinaan mentalitas kritis tersebut.
Tantangan utama literasi digital di sekolah dasar adalah disparitas akses dan kemampuan guru. Banyak guru belum memiliki kecakapan digital memadai untuk mendampingi anak dalam memilah informasi. Pelatihan intensif menjadi kebutuhan mendesak agar guru mampu menavigasi dunia digital dengan percaya diri. Tanpa itu, upaya literasi digital hanya menjadi wacana tanpa dampak signifikan. Kapasitas guru adalah fondasi keberhasilan program literasi digital nasional.
Selain itu, orang tua perlu dilibatkan karena penggunaan gawai anak sebagian besar terjadi di rumah. Edukasi orang tua mengenai keamanan digital, batas waktu penggunaan gadget, dan konten ramah anak sangat penting. Kolaborasi sekolah–keluarga menciptakan ekosistem digital yang sehat. Anak pun belajar memahami bahwa teknologi harus digunakan secara bertanggung jawab. Dengan demikian, literasi digital bukan sekadar proyek sekolah, tetapi gaya hidup keluarga.
Pada akhirnya, literasi digital yang kuat mempersiapkan anak menghadapi dunia yang rentan manipulasi informasi. Mereka tumbuh sebagai warga digital yang kritis, etis, dan cerdas menyikapi isu-isu publik. Dalam era di mana bencana, politik, dan opini publik kerap dipelintir, kemampuan ini menjadi sangat penting. Pendidikan dasar memiliki peran strategis dalam melindungi generasi muda dari risiko media digital. Oleh sebab itu, literasi digital adalah urgensi, bukan tambahan.
####
Penulis: Aida Meilina