Literasi Digital Sejak Dini: Mengajarkan Siswa SD Mengidentifikasi Hoaks
Anak-anak usia sekolah dasar saat ini adalah generasi digital native, namun status ini tidak secara otomatis membuat mereka literat secara digital. Kemudahan mengakses informasi melalui internet membuat mereka menjadi sasaran empuk berita bohong (hoaks), konten yang tidak pantas, dan penipuan online. Menyadari bahaya ini, banyak sekolah mulai mengintegrasikan pelajaran literasi digital ke dalam muatan ajar mereka sejak kelas rendah.
Program ini mengajarkan konsep-konsep dasar yang disederhanakan agar mudah dipahami anak-anak. Misalnya, mereka belajar untuk selalu bertanya "Siapa yang membuat informasi ini?" dan "Apakah sumbernya bisa dipercaya?" melalui studi kasus sederhana. Guru menggunakan contoh-contoh seperti gambar editan atau judul berita yang berlebihan (clickbait) untuk melatih kepekaan dan daya kritis siswa. Mereka juga diajarkan tentang pentingnya menjaga informasi pribadi dan cara bersikap baik di dunia maya.
Pendidikan literasi digital ini dianggap sebagai fondasi penting untuk masa depan. Tujuannya adalah untuk membekali siswa tidak hanya dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis terhadap informasi yang mereka konsumsi. Dengan bekal ini, diharapkan mereka dapat tumbuh menjadi warga digital yang cerdas, bertanggung jawab, dan tidak mudah terprovokasi oleh disinformasi.