Literasi Etika Digital: Vaksin Penangkal Fanatisme bagi Generasi Alfa
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pesatnya
penetrasi algoritma media sosial yang cenderung menciptakan ruang gema (echo
chamber) mendorong sejumlah sekolah dasar di Surabaya untuk memperkenalkan
literasi etika digital sebagai bagian inti dari pendidikan moral tahun ini.
Inisiatif inovatif ini muncul setelah serangkaian observasi menunjukkan bahwa
siswa sekolah dasar mulai menunjukkan bibit fanatisme kelompok yang dipicu oleh
paparan informasi sepihak di internet mengenai isu-isu politik dan sosial
global. Program ini mengajarkan siswa untuk memverifikasi kebenaran informasi
serta memahami dampak psikologis mendalam dari setiap komentar kebencian yang
mereka temui atau buat, menjadikannya keterampilan hidup yang kini sama
pentingnya dengan kemampuan baca-tulis.
Pendidikan moral dalam
konteks digital menuntut pergeseran paradigma dari sekadar pengawasan atau
pelarangan menjadi pemberdayaan nalar kritis anak secara mandiri. Siswa diajak
untuk membedah bagaimana narasi polarisasi bekerja dengan cara menyederhanakan
masalah kompleks menjadi pilihan hitam-putih yang sangat emosional dan
provokatif. Dengan memahami mekanisme manipulasi informasi, siswa diharapkan
memiliki daya tahan atau "imunitas" terhadap upaya adu domba yang
sering kali memanfaatkan isu-isu sensitif seperti agama atau etnisitas. Mutu
belajar moral kini diukur dari kemampuan siswa untuk tetap bersikap santun dan
objektif meskipun berada dalam ekosistem digital yang penuh dengan amarah dan
caci maki.
Pakar komunikasi
pendidikan menekankan bahwa Generasi Alfa adalah generasi yang lahir dengan
teknologi di tangan, namun mereka sering kali tidak dibekali dengan panduan
etika yang cukup untuk mengelolanya. Sekolah bertugas mengisi kekosongan
tersebut dengan memberikan simulasi interaksi digital yang sehat, di mana siswa
belajar cara menyampaikan ketidaksetujuan tanpa harus merendahkan martabat
orang lain. Hal ini sangat penting karena perilaku di dunia maya sering kali
terbawa ke dunia nyata, menciptakan pola interaksi yang agresif dan tidak
toleran di lingkungan sekolah. Literasi etika digital adalah langkah preventif
untuk memastikan bahwa teknologi menjadi alat pemersatu, bukan alat pemecah
belah yang merusak tatanan sosial anak-anak.
Selain aspek etika
komunikatif, program ini juga menyentuh aspek privasi dan keamanan data sebagai
bagian dari tanggung jawab moral individu di ruang publik digital. Siswa
diajarkan bahwa menghormati data pribadi orang lain adalah bentuk modern dari
nilai kesantunan yang selama ini diajarkan secara tradisional. Dengan memahami
batas-batas privasi, siswa belajar tentang batasan hak dan kewajiban mereka
sebagai warga digital yang bertanggung jawab. Pendidikan moral digital ini
menciptakan kesadaran bahwa setiap tindakan di internet memiliki jejak permanen
yang dapat memengaruhi masa depan mereka dan orang lain. Inilah yang membangun
integritas diri siswa dalam menghadapi godaan anonimitas di media sosial yang
sering kali memicu perilaku menyimpang.
Pemerintah daerah dan
praktisi pendidikan harus mulai menyadari bahwa tanpa literasi etika digital
yang kuat, sekolah dasar hanya akan menjadi tempat produksi "netizen"
yang reaktif dan tidak memiliki adab komunikasi. Inklusi nilai-nilai moral dalam
setiap interaksi digital siswa merupakan kunci utama untuk membangun
kewarganegaraan global yang sehat dan bermartabat. Jika kita berhasil membekali
generasi muda dengan filter moral yang tajam, maka polarisasi politik global
tidak akan mampu meruntuhkan fondasi jati diri bangsa yang menjunjung tinggi
kebhinekaan. Pendidikan moral adalah investasi terbaik untuk menjaga kewarasan
kolektif bangsa di tengah hiruk-pikuk disrupsi informasi yang tak terbendung di
masa depan.
Dalam praktiknya,
guru-guru juga dilatih untuk tidak alergi terhadap teknologi, melainkan
memanfaatkannya sebagai media diskusi moral yang dinamis di dalam kelas.
Penggunaan konten video edukasi yang memperlihatkan dampak nyata dari
perundungan siber (cyberbullying) terbukti lebih efektif menyentuh
empati siswa dibandingkan ceramah teoritis. Pendekatan berbasis pengalaman
visual ini membantu siswa merasakan penderitaan orang lain, sehingga tumbuh
keinginan internal untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Sekolah menjadi laboratorium di mana etika digital dipraktikkan secara nyata,
menciptakan budaya internet yang lebih sehat bagi pertumbuhan mental dan
karakter siswa sekolah dasar.
Sebagai kesimpulan,
literasi etika digital bukan lagi sekadar pilihan ekstrakurikuler, melainkan
kebutuhan mendesak bagi pertahanan moral bangsa Indonesia. Kita sedang berlomba
dengan kecepatan algoritma yang sering kali lebih cepat daripada kecepatan kurikulum
pendidikan formal kita. Namun, dengan dedikasi dan metode yang tepat, sekolah
dapat menjadi penawar bagi racun polarisasi yang disebarkan melalui kanal-kanal
digital. Masa depan demokrasi kita sangat bergantung pada kemampuan siswa hari
ini untuk berpikir sebelum mengklik dan berempati sebelum berkomentar. Melalui
literasi digital yang beradab, kita sedang menyiapkan generasi pemimpin yang
bijaksana dan mampu merangkul keberagaman di era layar.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah