Melawan Kecanduan Layar: Tanggung Jawab Kurikulum, Bukan Hanya Algoritma
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Laporan
mengenai meningkatnya kasus gangguan kesehatan mental pada anak SD akibat
kecanduan gawai sering kali berujung pada tuntutan agar platform digital
mengubah algoritmanya, namun jarang sekali yang menuntut perubahan kurikulum
sekolah. Padahal, sekolah memiliki peran sentral dalam membangun kontrol diri
dan literasi gizi informasi bagi siswa. Kegagalan kurikulum untuk mengajarkan
pengelolaan waktu digital dan kesadaran akan kesehatan mental siber adalah akar
masalah yang sering kali luput dari perhatian publik.
Sekolah seharusnya
menjadi tempat bagi siswa untuk belajar tentang keseimbangan antara kehidupan
daring dan luring. Namun, pada praktiknya, kurikulum sering kali tidak
memberikan ruang bagi diskusi mengenai manajemen atensi. Siswa tidak diajarkan
teknik-teknik untuk melepaskan diri dari jeratan notifikasi, yang secara
psikologis dirancang oleh algoritma untuk mengeksploitasi kerentanan saraf
manusia.
Literasi digital dalam
kurikulum harus mencakup aspek psikologi media, di mana anak-anak diajarkan
untuk menyadari bagaimana perasaan mereka setelah mengonsumsi konten tertentu.
Kemampuan untuk merefleksikan emosi saat berinternet adalah kunci untuk mencegah
kecanduan dan depresi. Tanpa bimbingan ini, anak-anak akan terus terjebak dalam
pusaran validasi sosial yang semu di media sosial.
Pendekatan pendidikan
harus beralih dari pelarangan menjadi pemberdayaan. Melarang gawai hanya akan
membuat siswa melakukannya secara sembunyi-sembunyi tanpa pengawasan; mendidik
mereka tentang cara menggunakannya secara sehat adalah solusi yang lebih dewasa.
Kurikulum perlu menciptakan simulasi atau praktik nyata tentang penggunaan
teknologi yang seimbang dalam kehidupan sehari-hari.
Menyalahkan algoritma
tanpa memperbaiki kurikulum adalah seperti menyalahkan banjir tanpa memperbaiki
saluran air. Pendidikan adalah saluran utama untuk membentuk karakter anak;
jika ia tersumbat oleh materi yang usang, maka dampak negatif teknologi akan
terus meluap. Sudah saatnya kurikulum kita mengambil tanggung jawab penuh atas
kesehatan digital siswa-siswanya.
###
Penulis: Nur Santika
Rokhmah