Melawan Stigma: Saat "Label" Menjadi Penghambat Belajar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — "Anak saya dianggap pengganggu di kelas," ungkap seorang wali murid, menggambarkan betapa stigma sosial masih menjadi tembok tinggi bagi siswa berkebutuhan khusus di sekolah dasar reguler hingga saat ini. Meskipun regulasi telah menjamin hak mereka, penolakan secara halus dari orang tua siswa lain dan persepsi negatif dari lingkungan sekolah masih sering terjadi. Stigma ini bukan hanya melukai perasaan, tetapi secara langsung merusak ekosistem belajar dan menghambat pencapaian potensi akademik maksimal bagi Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK).
Secara teoritis, stigma menciptakan lingkungan yang tidak aman secara psikologis, memicu otak anak masuk ke dalam fase "waspada" yang menghambat fungsi prefrontal korteks untuk berpikir jernih. Ketika seorang anak diberi label "cacat" atau "bermasalah", persepsi guru dan teman sebaya cenderung bias, hanya fokus pada keterbatasannya daripada kelebihannya. Data sosiologi pendidikan menunjukkan bahwa sekolah yang membiarkan stigma tumbuh subur akan mengalami tingkat perundungan yang lebih tinggi, yang pada akhirnya merugikan seluruh warga sekolah tanpa terkecuali.
Analisis terhadap perilaku sosial di sekolah menunjukkan bahwa pembiasaan positif untuk mengenal keragaman saraf (neurodiversity) sejak dini sangat efektif meruntuhkan tembok prasangka. Rutinitas sederhana seperti sesi berbagi cerita tentang "kehebatan setiap teman" di pagi hari melatih siswa reguler untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan sebagai ancaman. Sekolah berfungsi sebagai miniatur masyarakat di mana anak-anak belajar bahwa setiap orang memiliki tantangannya masing-masing, dan keberhasilan kolektif bergantung pada cara kita mendukung satu sama lain.
Peran guru dalam melawan stigma adalah sebagai garda terdepan model peran (role model) yang menunjukkan sikap inklusif dalam setiap tindakan. Guru yang menyapa PDBK dengan hangat, memberikan tanggung jawab kelas yang sesuai, dan memuji kemajuan mereka di depan umum sedang mengajarkan standar moral kepada siswa lainnya. Keteladanan ini jauh lebih ampuh daripada ceramah verbal tentang toleransi, karena anak usia SD akan meniru perilaku nyata orang dewasa yang mereka kagumi di lingkungan sekolah.
Inovasi dalam mengikis stigma juga melibatkan penggunaan media literasi berupa buku cerita atau film pendek yang menggambarkan sosok pahlawan dengan disabilitas. Program "Duta Inklusi" di tingkat kelas di mana siswa saling membantu tugas tanpa memandang status fisik atau mental juga terbukti meningkatkan empati. Sistem ini memastikan bahwa lingkungan sekolah yang nyaman bukan hasil dari paksaan aturan, melainkan hasil dari kesadaran intrinsik setiap individu untuk menghargai martabat sesama manusia.
Sinergi dengan orang tua siswa reguler menjadi kunci agar narasi inklusi yang dibangun di sekolah tidak luntur saat anak berada di rumah. Sekolah aktif mengadakan seminar "Membangun Empati dari Rumah" agar para orang tua memahami bahwa keberadaan PDBK di kelas justru merupakan kesempatan emas bagi anak mereka untuk belajar kecerdasan emosional. Dialog rutin yang terbuka antar-wali murid membantu meminimalisir kecemburuan sosial atau ketakutan yang tidak berdasar mengenai kualitas pendidikan di kelas inklusi.
Sebagai penutup, perlawanan terhadap stigma adalah kunci utama untuk menciptakan sekolah dasar yang benar-benar ramah bagi semua anak Indonesia. Kita harus menyadari bahwa hambatan terbesar pendidikan bukan terletak pada kondisi fisik anak, melainkan pada pikiran yang sempit dan diskriminatif. Sekolah dasar harus menjadi oase yang menyejukkan bagi keragaman, di mana setiap anak merasa diterima dan dihargai apa adanya. Mari kita jadikan penghapusan stigma sebagai denyut nadi pendidikan kita, demi melahirkan generasi emas yang mulia secara karakter dan inklusif secara pemikiran.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah