Melek Digital Bukan Soal Cepat, Tapi Soal Cermat
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Kecepatan sering dianggap sebagai ukuran kecakapan di era digital. Siapa paling cepat merespons, ia dianggap paling paham. Padahal kecepatan tidak selalu sejalan dengan kecermatan. Literasi digital mengajak mengubah ukuran ini. Ia menempatkan kehati-hatian sebagai nilai utama. Banyak keputusan digital diambil dalam hitungan detik. Membagikan informasi terasa sepele. Namun dampaknya bisa panjang. Literasi digital mengingatkan bahwa setiap klik adalah pilihan. Pilihan ini mencerminkan cara berpikir.
Di ruang media sosial, arus opini bergerak deras. Pendapat populer sering mendominasi. Tanpa literasi, individu larut dalam arus mayoritas. Literasi digital memberi keberanian untuk berpikir mandiri. Ia mengajarkan pentingnya suara nalar.
Kecermatan juga berarti memahami konteks. Satu peristiwa bisa memiliki banyak sudut pandang. Literasi digital menuntut kesediaan melihat lebih dari satu sisi. Dengan begitu, penilaian menjadi lebih adil. Emosi tidak lagi menjadi pengendali utama.
Selain itu, literasi digital melatih kesabaran. Tidak semua hal perlu direspons segera. Diam sejenak bisa menjadi keputusan bijak. Dalam jeda itulah refleksi terjadi. Literasi digital menghargai proses ini.
Kemampuan teknis tanpa kecermatan berisiko melahirkan kekeliruan. Teknologi hanya memperbesar apa yang ada dalam diri penggunanya. Literasi digital memastikan yang diperbesar adalah nilai positif. Kesadaran menjadi filter utama.
Dengan literasi, ruang digital menjadi lebih sehat. Diskusi berlangsung lebih bermakna. Informasi diperlakukan dengan hormat. Semua ini berawal dari kecermatan berpikir.
Pada akhirnya, melek digital adalah pilihan untuk berjalan lebih pelan namun pasti. Bukan sekadar mengejar cepat. Melainkan menjaga kualitas di setiap langkah. Di sanalah kedewasaan digital tumbuh.
Penulis: Resinta Aini Z.