Memahami Konsep Diri Akademik Matematika dalam Perspektif Budaya
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Seperti kupu-kupu yang mengalami metamorfosis, setiap guru juga menjalani proses transformasi untuk menjadi pendidik yang lebih baik. Perjalanan ini tidak hanya melibatkan penguasaan materi pembelajaran, tetapi juga pemahaman mendalam tentang bagaimana identitas budaya mempengaruhi cara pandang kita terhadap pendidikan, khususnya pembelajaran matematika. Penelitian yang dilakukan oleh Silvi Amaliatus Sholihah dan Neni Mariana dari Universitas Negeri Surabaya mengungkap fenomena menarik tentang bagaimana identitas kultural seseorang dapat membentuk konsep diri akademik dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar. Konsep diri akademik merupakan persepsi atau kepercayaan siswa terhadap kekuatan dan kelemahan kemampuan akademik yang dimilikinya, yang terbentuk tidak hanya dari dalam diri sendiri, melainkan juga dari pengaruh lingkungan seperti keluarga, guru, dan teman sebaya.
Penelitian transformatif ini berangkat dari refleksi kritis peneliti terhadap pengalamannya sendiri sebagai siswa, mahasiswa, dan pendidik. Melalui metode autoetnografi kritis, peneliti menggali bagaimana identitas kulturalnya sebagai seorang muslim bersuku Jawa mempengaruhi persepsinya terhadap matematika. Pengalaman peneliti menunjukkan perjalanan yang penuh dinamika, mulai dari memiliki kecemasan terhadap matematika di kelas empat sekolah dasar akibat ketidakadilan guru, kemudian kembali menyukai matematika di kelas lima dan enam karena cara mengajar guru yang lebih baik, hingga mengalami kesulitan di tingkat menengah pertama namun berhasil mendapatkan nilai ujian nasional yang baik. Perjalanan ini membuka mata peneliti bahwa identitas kultural dapat mempengaruhi pembentukan konsep diri akademik seseorang, terutama ketika melihat teman-temannya dari etnis Tionghoa yang sering menjuarai olimpiade matematika.
Identitas kultural yang dimiliki peneliti sebagai muslim Jawa ternyata berperan penting dalam membentuk sikapnya terhadap matematika. Nilai kejujuran yang diajarkan dalam Islam membuat peneliti selalu percaya diri menghadapi ujian matematika karena tidak pernah mencontek. Peneliti lebih memilih menerima nilai apa adanya asalkan dikerjakan dengan jujur, karena yakin ada keberkahan di dalamnya. Di sisi lain, falsafah Jawa "nrima ing pandum" atau menerima dengan ikhlas membuat peneliti dapat menerima berapapun nilai matematika yang didapat tanpa merasa kecewa berlebihan. Ketika mengalami kesulitan, peneliti juga menerapkan nilai "rukun agawe santoso" atau kerukunan membawa keselamatan dengan belajar bersama teman-teman. Kombinasi nilai-nilai budaya dan agama ini membentuk konsep diri akademik yang unik, di mana peneliti tetap memiliki persepsi positif terhadap matematika meskipun sering mendapat nilai remidi.
Pengalaman mengajar di Singapore Intercultural School Cilegon semakin membuka wawasan peneliti tentang pengaruh identitas multikultural terhadap konsep diri akademik siswa. Peneliti menemukan dua siswa dengan latar belakang berbeda yang memiliki sikap berbeda pula terhadap matematika. Raphael, siswa beretnis Tionghoa yang beragama Kristen, memiliki kemampuan matematika yang baik namun cenderung sombong dan enggan bertanya saat tidak memahami materi karena gengsi. Sikap ini justru menghambat perkembangannya. Sebaliknya, Al Fatih, siswa Jawa muslim, memiliki sikap yang sangat pendiam dan pemalu atau dalam bahasa Jawa disebut "sungkan". Meskipun kemampuan matematikanya lebih lambat dari teman-temannya, ia selalu menurut pada guru dan tidak berani bertanya ketika tidak mengerti. Kedua kasus ini menunjukkan bahwa nilai budaya yang berbeda dapat mempengaruhi sikap dan kemampuan akademik siswa dalam pembelajaran matematika.
Penelitian ini juga melibatkan wawancara dengan guru-guru untuk mengetahui pandangan mereka tentang pengaruh identitas multikultural siswa terhadap pembelajaran matematika. Hasil wawancara menunjukkan bahwa guru sudah menyadari adanya perbedaan sikap dan kemampuan siswa berdasarkan latar belakang kulturalnya. Guru juga memahami pentingnya kesetaraan dalam pembelajaran matematika, di mana tidak ada etnis yang diunggulkan. Beberapa guru bahkan sudah memahami bagaimana mengintegrasikan pendidikan multikultural dengan pembelajaran matematika, misalnya dengan mengajak siswa berdoa sesuai keyakinan masing-masing sebelum pembelajaran atau menggunakan soal cerita yang mengenalkan keragaman suku dan budaya. Namun, masih ada juga guru yang belum memahami cara konkret untuk mengaitkan pendidikan multikultural dengan pembelajaran matematika meskipun sudah menerapkan prinsip keadilan.
Berdasarkan temuan penelitian, ada dua faktor utama yang mempengaruhi konsep diri akademik siswa dalam pembelajaran matematika. Faktor internal meliputi peran diri, motivasi, dan pengalaman pribadi siswa. Konsep diri seseorang dapat berubah seiring dengan perubahan perannya, misalnya dari siswa menjadi mahasiswa atau guru. Faktor eksternal meliputi nilai budaya, nilai agama, dukungan orang tua, dan cara mengajar guru. Nilai budaya yang berbeda dapat mempengaruhi keyakinan diri seseorang dan cara menghargai orang lain. Dukungan orang tua juga berperan besar dalam pembentukan konsep diri akademik anak, begitu pula dengan cara guru mengajar yang dapat membentuk persepsi positif atau negatif siswa terhadap matematika. Pemahaman tentang faktor-faktor ini penting agar guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung terbentuknya konsep diri akademik positif pada semua siswa.
Penelitian ini memberikan implikasi penting bagi dunia pendidikan, khususnya pembelajaran matematika di sekolah dasar. Guru perlu mengenal dan memahami karakteristik serta latar belakang kultural siswa agar dapat menciptakan pembelajaran yang setara dan tidak diskriminatif. Pendekatan pendidikan multikultural dalam pembelajaran matematika menjadi penting untuk menciptakan rasa toleransi dan menghilangkan prasangka, sehingga semua siswa dapat memiliki persepsi positif dan kemampuan yang baik dalam matematika tanpa merasa termarjinalkan karena identitas kulturalnya. Guru dapat menerapkan dimensi pendidikan multikultural seperti integrasi konten budaya dalam soal matematika, konstruksi pengetahuan yang mempertimbangkan perspektif budaya siswa, kesetaraan pedagogi yang memfasilitasi semua siswa dari berbagai latar belakang, mengurangi prasangka, dan memberdayakan kultur sekolah yang inklusif. Dengan demikian, pembelajaran matematika tidak hanya mengembangkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga membangun karakter yang menghargai keberagaman dan mencintai budayanya sendiri di tengah arus globalisasi.
Sumber: