Membaca di Tengah Ledakan Video Pendek Ketika PISA Menguji Daya Tahan Nalar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya -
Membaca bukan sekadar
aktivitas akademik, melainkan proses membangun nalar secara perlahan. Di era
TikTok, proses ini diuji oleh banjir visual yang bergerak cepat. Video pendek
menawarkan kesenangan instan tanpa tuntutan refleksi panjang. Dalam situasi
seperti ini, membaca teks panjang terasa seperti kerja berat. PISA merekam
dampak dari perubahan kebiasaan tersebut. Skor literasi mencerminkan melemahnya
daya tahan kognitif. Bukan karena kurangnya kecerdasan, tetapi karena perubahan
pola perhatian. Literasi membaca menghadapi tantangan zaman yang belum
sepenuhnya disadari.
Budaya video membentuk kebiasaan berpikir reaktif.
Informasi diterima tanpa jeda. Pembaca jarang berhenti untuk bertanya atau
meragukan. Dalam membaca, jeda justru penting. Ia memberi ruang bagi pemaknaan.
Tanpa jeda, pemahaman menjadi dangkal.
PISA mengukur kemampuan mengaitkan informasi dan
menarik kesimpulan. Keterampilan ini membutuhkan fokus berkelanjutan. Ketika
perhatian mudah teralihkan, proses integrasi makna terganggu. Teks dipahami
secara terpotong. Literasi berubah menjadi sekadar pengenalan kata. Dampaknya
terlihat jelas dalam hasil asesmen.
Namun membaca tidak harus bersaing secara langsung
dengan video. Ia dapat hadir sebagai pengalaman berbeda. Membaca menawarkan
kedalaman, bukan kecepatan. Tantangannya adalah menanamkan kembali kesadaran
akan nilai kedalaman tersebut. Tanpa kesadaran, literasi akan terus tergerus.
Peran orang dewasa sangat krusial dalam hal ini.
Kebiasaan membaca yang terlihat sehari hari memberi pesan kuat. Literasi tidak
tumbuh dari slogan. Ia tumbuh dari praktik konsisten. Tanpa teladan, pesan
tentang pentingnya membaca kehilangan makna.
Teknologi sebenarnya dapat menjadi jembatan. Buku
digital, forum diskusi, dan konten reflektif dapat memperkuat minat membaca.
Kuncinya terletak pada desain pengalaman. Membaca perlu dibuat relevan dengan
kehidupan nyata. Dengan demikian, literasi kembali memiliki daya tarik.
Pada akhirnya, PISA mengingatkan bahwa membaca adalah
latihan ketahanan nalar. Di tengah ledakan video pendek, ketahanan ini mudah
melemah. Namun dengan kesadaran dan praktik yang tepat, membaca tetap dapat
bertahan. Dari situlah literasi memiliki peluang untuk bangkit kembali.
###
Penulis: Resinta Aini Zakiyah