Membaca Krisis Nilai sebagai Alarm untuk Menguatkan Tahap Fondasi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Fenomena anjloknya rerata nilai TKA Indonesia dapat dipahami sebagai alarm keras yang menandakan adanya masalah serius pada tahap fondasi pembelajaran anak. Nilai yang rendah tidak muncul tiba tiba melainkan hasil dari proses panjang yang mungkin kurang mendapatkan perhatian memadai. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembentukan kemampuan dasar belum benar benar menjadi prioritas utama dalam perencanaan kualitas generasi. Anak berjalan dengan bekal yang terbatas sehingga ketika dihadapkan pada standar evaluasi yang menuntut kemampuan tinggi mereka mengalami kesulitan. Situasi seperti ini tentu tidak boleh dianggap biasa karena menyangkut masa depan bangsa. Jika alarm ini diabaikan dampaknya akan semakin luas pada masa mendatang. Karena itu perlu ada kesungguhan dalam menjadikannya momentum berbenah.
Rendahnya nilai juga memberi gambaran bahwa banyak anak belum memperoleh stimulasi yang cukup untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis literasi dasar dan ketahanan mental menghadapi tantangan belajar. Padahal ketiga aspek tersebut merupakan inti kesiapan akademik yang harus terbentuk sejak awal. Ketika hal ini tidak terbangun maka hasil evaluasi pasti akan menunjukkan kesenjangan besar antara harapan dan kenyataan. Situasi ini menegaskan bahwa pembinaan dasar membutuhkan pendekatan yang lebih matang terarah dan berkelanjutan. Tanpa langkah tersebut anak akan terus menjadi korban dari sistem yang belum sepenuhnya mendukung perkembangan optimal mereka. Kesadaran mengenai hal ini harus diwujudkan dalam tindakan konkret bukan sekadar wacana.
Krisis nilai juga menunjukkan bahwa perbaikan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan langkah yang menyentuh akar persoalan bukan hanya memperbaiki bagian permukaan. Akar persoalan terletak pada kurang seriusnya perhatian terhadap fase awal yang seharusnya menjadi tiang penyangga keberhasilan belajar. Jika fase ini diperkuat maka berbagai masalah pada tahap berikutnya akan berkurang dengan sendirinya. Oleh sebab itu pembenahan harus dimulai dari penataan ulang konsep pembinaan dasar yang lebih visioner dan manusiawi. Anak perlu dipandang sebagai subjek utama yang berhak memperoleh dukungan menyeluruh agar tumbuh optimal. Dengan fondasi kuat masa depan pembelajaran nasional akan lebih terjamin.
Rendahnya nilai TKA juga harus menumbuhkan kesadaran bahwa keberhasilan bangsa dalam mencetak generasi unggul bergantung pada keseriusan menata tahap awal pembelajaran. Banyak negara menunjukkan keberhasilan besar karena menempatkan fondasi sebagai prioritas utama pengembangan manusia. Dari pengalaman tersebut seharusnya bangsa ini belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari dasar yang kuat. Tahun tahun awal pembinaan bukan sekadar tahap pengenalan tetapi titik awal pembentukan kecakapan hidup jangka panjang. Jika perhatian pada fase ini diperkuat maka harapan peningkatan nilai di masa mendatang bukan lagi sekadar mimpi. Harapan itu dapat diwujudkan melalui kerja nyata yang konsisten.
Pada akhirnya krisis nilai yang terjadi saat ini harus dibaca sebagai kesempatan untuk melakukan pembenahan besar besaran. Jika bangsa mampu menjadikannya momentum refleksi dan perubahan maka masa depan pembelajaran nasional akan bergerak ke arah yang lebih baik. Anak akan memperoleh haknya untuk memiliki fondasi yang kuat sehingga siap menghadapi tantangan masa depan. Dengan begitu masalah nilai rendah tidak lagi hanya menjadi kisah keprihatinan tetapi titik balik kebangkitan kesadaran bersama. Dari fondasi kuat akan lahir generasi tangguh yang mampu berdaya saing. Itulah tujuan utama yang seharusnya menjadi arah setiap upaya perbaikan yang dilakukan.
Penulis: Resinta Aini Zakiyah