Membangun "Home Library": Solusi Literasi Dini yang Terabaikan oleh Orang Tua
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Data statistik mengenai rendahnya minat baca siswa SD di Indonesia sering kali berbanding lurus dengan ketiadaan akses bahan bacaan di lingkungan rumah. Evaluasi terhadap peran orang tua mengungkap bahwa banyak keluarga tidak menganggap pengadaan buku anak sebagai prioritas, lebih memilih membelikan mainan mahal atau pakaian bermerek. Padahal, literasi dini yang kuat bermula dari ketersediaan "perpustakaan kecil" di rumah yang memungkinkan anak menyentuh, membuka, dan mengeksplorasi buku tanpa rasa takut. Inilah solusi sederhana yang sayangnya masih terabaikan oleh sebagian besar masyarakat kita.
Pentingnya literasi dini di tingkat SD tidak bisa hanya mengandalkan perpustakaan sekolah yang sering kali terbatas koleksinya. Orang tua memiliki peran krusial untuk menciptakan ekosistem baca yang merangsang rasa ingin tahu anak setiap hari. Sebuah rumah yang dipenuhi buku akan mengirimkan pesan kuat kepada anak bahwa pengetahuan adalah sesuatu yang berharga dan menyenangkan. Tanpa stimulus visual berupa buku di rumah, anak-anak akan lebih mudah beralih pada distraksi digital yang bersifat adiktif dan tidak produktif bagi perkembangan nalar mereka.
Evaluasi peran pendampingan menunjukkan bahwa orang tua yang rutin mendampingi anak memilih bacaan akan memiliki anak dengan kemampuan analisis yang lebih tajam. Anak SD berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan bimbingan untuk memahami makna di balik teks. Jika orang tua hadir untuk menjelaskan kata-kata sulit atau mendiskusikan plot cerita, kemampuan literasi anak akan melompat jauh melampaui standar kurikulum. Peran orang tua sebagai "pemandu literasi" adalah kunci yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.
Kendala yang sering muncul adalah anggapan bahwa buku anak itu mahal atau sulit didapat. Namun, di era informasi sekarang, akses terhadap bacaan digital berkualitas atau buku bekas yang terjangkau sangat terbuka lebar. Masalahnya kembali pada prioritas dan kesadaran orang tua tentang pentingnya literasi dini. Evaluasi menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki kesadaran literasi tinggi akan aktif mencari cara agar anaknya tetap memiliki asupan bacaan yang berkualitas, meskipun dengan sumber daya yang terbatas.
Dampak dari ketiadaan literasi di rumah sangat terasa saat siswa SD menghadapi soal-soal berbasis literasi (AKM). Anak-anak yang tidak terbiasa membaca di rumah akan cepat lelah dan bingung saat menghadapi teks yang panjang dan kompleks. Hal ini bukan masalah kecerdasan bawaan, melainkan masalah "otot literasi" yang tidak pernah dilatih di rumah. Orang tua harus memahami bahwa mendampingi anak membaca adalah investasi waktu yang akan memberikan imbal hasil berupa kecemerlangan masa depan akademik sang anak.
Mari kita mulai mengevaluasi kembali bagaimana rumah kita dikelola sebagai lingkungan belajar. Menyiapkan pojok baca kecil di sudut rumah bisa menjadi langkah awal yang revolusioner bagi masa depan literasi anak. Orang tua adalah guru pertama dan utama dalam kehidupan anak, dan buku adalah alat terbaik untuk menjembatani kasih sayang dengan kecerdasan. Jangan biarkan anak-anak kita menjadi "buta huruf" di tengah kemajuan zaman hanya karena kita lalai menyediakan jendela pengetahuan di rumah sendiri.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah