Membangun Resiliensi: Mengajarkan Siswa SD Menghadapi Kegagalan dengan Mental Sehat
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan di
tingkat sekolah dasar selama ini cenderung terlalu mendewakan kesuksesan
akademik tanpa memberikan ruang bagi siswa untuk belajar menghadapi kegagalan,
padahal kemampuan bangkit dari keterpurukan atau resiliensi adalah kunci utama
kesehatan mental jangka panjang. Stigma negatif terhadap kegagalan di sekolah
sering kali membuat siswa merasa malu, tidak berguna, dan takut untuk mencoba
hal baru, yang jika dibiarkan akan memicu gangguan kecemasan dan rendah diri
yang kronis. Menghapus stigma berarti mengubah paradigma kelas dari tempat
kompetisi yang kaku menjadi laboratorium kehidupan, di mana setiap kesalahan
dipandang sebagai kesempatan berharga untuk bertumbuh dan belajar secara
emosional.
Analisis psikologis
menunjukkan bahwa anak-anak yang diajarkan bahwa otak mereka bisa berkembang
melalui tantangan (growth mindset) memiliki tingkat ketahanan mental
yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang hanya dipuji karena kecerdasan
bawaan. Guru memiliki peran sentral untuk memberikan validasi terhadap usaha
siswa, bukan hanya hasil akhir yang tertera pada nilai rapor semata. Dengan
menormalisasi proses jatuh-bangun dalam belajar, kita sebenarnya sedang
membangun otot-otot mental siswa agar mereka tidak mudah hancur saat menghadapi
tekanan hidup yang jauh lebih besar di masa dewasa kelak, sekaligus menghapus
pandangan bahwa bantuan psikologis hanya dibutuhkan oleh mereka yang
"gagal."
Metode pengajaran yang
mendukung resiliensi dapat diimplementasikan melalui proyek-proyek kolaboratif
yang menuntut pemecahan masalah secara kreatif, di mana siswa belajar
bernegosiasi dengan kekecewaan saat rencana mereka tidak berjalan lancar.
Diskusi kelas mengenai tokoh-tokoh hebat yang pernah mengalami kegagalan besar
namun mampu bangkit kembali dapat menjadi inspirasi bagi siswa untuk melihat
bahwa tantangan mental adalah bagian normal dari perjalanan setiap manusia.
Dengan menghapus rasa takut akan kegagalan, siswa akan merasa lebih aman secara
psikologis untuk mengeksplorasi potensi diri mereka tanpa beban tuntutan
kesempurnaan yang sering kali justru merusak kesehatan jiwa mereka.
Sekolah juga perlu
melibatkan orang tua dalam gerakan membangun resiliensi ini, agar di rumah anak
tidak mendapatkan tekanan tambahan yang mengharuskan mereka untuk selalu
menjadi nomor satu dalam segala hal. Orang tua perlu diajarkan untuk merayakan "kegagalan
yang produktif" dan memberikan dukungan emosional yang stabil saat anak
merasa sedih karena hasil yang tidak maksimal. Sinergi antara rumah dan sekolah
dalam memandang kegagalan sebagai bagian dari dinamika kesehatan mental yang
sehat akan menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana setiap anak merasa
dihargai terlepas dari pencapaian statistik mereka di sekolah.
Resiliensi bukan berarti
anak tidak boleh merasa sedih, melainkan tentang bagaimana mereka mengelola
kesedihan tersebut menjadi kekuatan untuk melangkah maju kembali dengan mental
yang lebih matang. Kita memikul tanggung jawab untuk memastikan bahwa setiap
siswa SD memiliki "kotak peralatan emosional" yang lengkap untuk
menghadapi badai kehidupan yang mungkin datang. Dengan menghapus stigma
terhadap kegagalan dan memprioritaskan kesehatan mental, kita sedang mencetak
generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga tangguh secara
mental dan memiliki jiwa pejuang yang tak mudah menyerah oleh keadaan.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah