Membangun Solidaritas dan Kesehatan Siswa Melalui Tradisi Doa Buka Puasa Rajab
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Momentum bulan Rajab tahun ini dimanfaatkan oleh berbagai pegiat pendidikan dasar untuk memperkuat kedekatan antar-siswa melalui praktik puasa sunnah dan doa buka puasa Rajab bersama. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan sebuah strategi edukasi untuk mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam menciptakan kesejahteraan fisik dan mental siswa. Pendidikan dasar dinilai sebagai waktu yang paling tepat untuk memperkenalkan pola hidup teratur yang menyeimbangkan antara kesehatan spiritual dan kebugaran jasmani.
Dalam pelaksanaannya, guru-guru di tingkat sekolah dasar membimbing siswa untuk memahami makna mendalam dari doa buka puasa Rajab sebagai bentuk apresiasi terhadap kesehatan. Sejalan dengan SDG 3, siswa diberikan edukasi bahwa tubuh adalah amanah yang harus dijaga dengan memberikan asupan yang bergizi saat berbuka. Pendidikan ini bertujuan untuk menanamkan kebiasaan makan sehat sejak dini, sehingga anak-anak tidak hanya sekadar membatalkan puasa, tetapi juga memahami pentingnya nutrisi bagi pertumbuhan tulang dan kecerdasan otak mereka di masa sekolah.
Selain aspek kesehatan, momen doa bersama ini menjadi alat yang efektif untuk mengimplementasikan SDG 10, yaitu mengurangi kesenjangan di lingkungan sekolah. Saat duduk melingkar menunggu waktu berbuka, tidak ada perbedaan antara siswa dari latar belakang ekonomi yang berbeda; semua duduk setara menanti saat yang sama untuk memanjatkan doa buka puasa Rajab. Praktik inklusivitas di level pendidikan dasar ini sangat penting untuk menghapus bibit-bibit diskriminasi dan membangun rasa persaudaraan yang kuat di antara generasi muda sejak usia dini.
Edukasi mengenai konsumsi yang bijak juga disisipkan dalam rangkaian kegiatan ini untuk mendukung SDG 12. Siswa diajarkan untuk mempraktikkan doa buka puasa Rajab sebagai pengingat agar tidak berlebihan dalam mengambil hidangan. Dengan mengajarkan anak-anak untuk mengambil makanan secukupnya, pendidikan dasar berperan dalam mengurangi budaya mubazir yang sering terjadi di masyarakat. Hal ini membentuk karakter siswa yang sadar akan keterbatasan sumber daya alam dan pentingnya berbagi dengan mereka yang lebih membutuhkan.
Sebagai penutup, kegiatan yang mengintegrasikan doa buka puasa Rajab dengan nilai-nilai pembangunan berkelanjutan ini diharapkan dapat memberikan dampak jangka panjang bagi perilaku siswa. Sekolah berfungsi sebagai laboratorium sosial di mana teori tentang empati dan kesehatan dipraktikkan secara nyata. Dengan bimbingan yang tepat, semangat bulan Rajab dapat menjadi katalisator bagi tercapainya tujuan global SDGs, menciptakan generasi yang sehat secara fisik, santun secara spiritual, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama.
###
Penulis: Nadya Ulya Octavianisa