Membendung Arus Polarisasi: Urgensi Pendidikan Moral di Ruang Kelas Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah
meningkatnya tensi politik dan fragmentasi sosial yang membelah masyarakat
global, institusi pendidikan dasar di Indonesia mulai mengadopsi kurikulum
penguatan moral yang berfokus pada mitigasi polarisasi sejak awal tahun ajaran
ini. Langkah strategis ini diambil sebagai respons atas data sosiologis yang
menunjukkan bahwa anak-anak usia sekolah dasar kini kian terpapar konten
diskriminatif dan dikotomi "kita vs mereka" melalui algoritma media
sosial yang agresif. Program ini bertujuan menanamkan pemahaman fundamental
bahwa perbedaan pilihan dan identitas tidak seharusnya menjadi alasan untuk
segregasi sosial, melainkan sebuah realitas keberagaman yang harus dikelola
dengan empati dan nalar kritis.
Secara teoretis, anak
usia sekolah dasar berada dalam tahap perkembangan moral yang sangat krusial,
di mana internalisasi nilai-nilai keadilan dan toleransi akan membentuk fondasi
karakter mereka hingga dewasa. Jika ruang kelas tidak segera diisi dengan narasi
persatuan yang kuat, maka kekosongan psikologis tersebut akan dengan mudah
diisi oleh narasi kebencian yang berseliweran di ruang digital tanpa filter.
Analisis para ahli pendidikan menekankan bahwa pendidikan moral di era
polarisasi tidak boleh lagi sekadar hafalan norma normatif, melainkan harus
melibatkan simulasi pengambilan keputusan etik dalam menghadapi situasi konflik
nyata. Inilah yang disebut sebagai pengembangan "kekebalan sosial",
di mana siswa dilatih untuk tidak mudah terprovokasi oleh sentimen kelompok
yang bersifat destruktif dan memecah belah.
Implementasi program ini
melibatkan metode dialogic teaching, di mana guru tidak lagi berperan
sebagai sumber otoritas tunggal, melainkan sebagai fasilitator yang memancing
pemikiran kritis siswa tentang isu-isu kemanusiaan. Siswa diajak untuk membedah
berita atau cerita yang mengandung unsur prasangka, kemudian bersama-sama
mencari sudut pandang alternatif yang lebih inklusif dan objektif. Melalui
diskusi yang terbimbing, anak-anak belajar bahwa sebuah kebenaran sering kali
memiliki banyak perspektif, dan menghargai perbedaan pendapat adalah tanda
kematangan intelektual yang harus dipupuk sejak dini. Hal ini secara bertahap
meruntuhkan tembok eksklusivitas pemikiran yang sering kali menjadi akar dari
perilaku perundungan dan intoleransi di lingkungan sekolah.
Peran orang tua di rumah
juga menjadi variabel penentu keberhasilan pendidikan moral ini, mengingat
rumah adalah tempat pertama anak menyerap bias politik dan sosial dari orang
dewasa di sekitarnya. Sekolah secara rutin menyelenggarakan sesi diskusi bersama
wali murid untuk menyinkronkan nilai-nilai perdamaian agar tidak terjadi
kontradiksi antara apa yang diajarkan di kelas dan apa yang didengar anak di
meja makan. Sinergi ini sangat penting untuk memastikan anak tidak mengalami
disonansi kognitif yang dapat membingungkan perkembangan moral mereka.
Pendidikan moral harus menjadi gerakan kolektif yang melibatkan ekosistem
terkecil siswa guna menciptakan lingkungan yang konsisten dalam menghargai
kemanusiaan.
Fakta di lapangan
menunjukkan bahwa sekolah yang secara konsisten menerapkan pendidikan moral
berbasis mitigasi polarisasi memiliki tingkat konflik antar-siswa yang jauh
lebih rendah dan suasana belajar yang lebih harmonis. Siswa tidak lagi merasa
terancam dengan perbedaan latar belakang suku atau agama, karena mereka telah
dibekali dengan kecakapan emosional untuk melihat "yang lain" sebagai
mitra belajar, bukan sebagai lawan. Pencapaian ini membuktikan bahwa pendidikan
moral yang relevan dengan krisis global dapat menjadi solusi konkret untuk
menjaga kohesi sosial bangsa di masa depan. Investasi pada karakter anak SD
saat ini adalah jaminan bahwa demokrasi kita di masa depan akan dikelola oleh
individu yang memiliki integritas moral yang kokoh.
Selain itu, integrasi
teknologi dalam pendidikan moral juga mulai diperkenalkan untuk membantu siswa
mendeteksi narasi polarisasi dalam platform digital yang mereka gunakan
sehari-hari. Melalui permainan simulasi, siswa diajarkan bagaimana algoritma
bekerja menciptakan "ruang gema" yang membuat orang hanya mau
mendengar apa yang ingin mereka dengar saja. Dengan pemahaman teknis dan moral
ini, siswa menjadi lebih waspada terhadap upaya manipulasi opini yang sering
kali menargetkan emosi anak-anak. Literasi digital yang berbasis moralitas ini
menjadi perlindungan ganda bagi siswa dalam menghadapi kerasnya arus informasi
dunia yang sering kali tidak ramah bagi pertumbuhan jiwa anak.
Sebagai penutup, sekolah
dasar adalah benteng terakhir yang dapat kita andalkan untuk menyelamatkan masa
depan kohesi sosial dari ancaman polarisasi global yang kian ekstrem.
Pendidikan moral bukan lagi sekadar pelengkap kurikulum, melainkan kebutuhan mendesak
untuk menjaga kewarasan kolektif dan integritas bangsa Indonesia. Jika kita
berhasil membekali generasi Alfa dengan filter moral yang kuat dan kasih sayang
universal, maka badai politik global tidak akan pernah mampu meruntuhkan jati
diri bangsa yang inklusif. Masa depan dunia yang damai dan beradab dimulai dari
setiap kata bijak dan sikap adil yang dipelajari oleh siswa sekolah dasar kita
hari ini di dalam ruang kelas mereka.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah