Menantang Halusinasi Data: Peran Dosen sebagai Verifikator Kebenaran Ilmiah
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di era di mana AI seringkali menghasilkan informasi yang terlihat sangat meyakinkan namun sebenarnya salah sebuah fenomena yang dikenal sebagai "halusinasi AI"—peran dosen sebagai penjaga nalar menjadi lebih krusial dari sebelumnya. Mahasiswa pascasarjana kini sering terjebak dengan menyertakan referensi fiktif atau data statistik yang dikarang oleh mesin ke dalam draf riset mereka. Kondisi ini menuntut dosen untuk meningkatkan standar ketelitiannya, bertindak sebagai filter terakhir kebenaran ilmiah, dan memastikan bahwa setiap angka yang diajukan mahasiswa berpijak pada realitas objektif yang dapat dipertanggungjawabkan.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak mahasiswa menerima mentah-mentah keluaran AI tanpa melakukan verifikasi silang terhadap buku teks atau jurnal asli. Hal ini menciptakan risiko besar bagi kualitas riset nasional, di mana kebohongan digital dapat merembes ke dalam literatur ilmiah resmi. Dosen sebagai verifikator kebenaran harus melatih mahasiswa untuk memiliki "keraguan metodologis" terhadap segala sesuatu yang dihasilkan secara otomatis. Belajar di era AI adalah belajar untuk skeptis, dan dosen adalah instruktur utama dalam melatih otot-otot kritis mahasiswa agar tidak tersesat dalam rimba informasi palsu.
Analisis dari pakar manajemen data akademik menekankan bahwa dosen perlu memberikan sanksi yang tegas namun edukatif terhadap penggunaan data fiktif hasil AI. Penjagaan mutu tidak boleh berkompromi dengan kejujuran data. Dosen harus mampu menunjukkan cara melakukan pelacakan sumber asli dan membedakan antara opini populer yang dihasilkan AI dengan fakta saintifik yang teruji. Jika dosen hanya fokus pada pemberian nilai tanpa memeriksa validitas referensi, maka mereka secara tidak langsung sedang membiarkan virus disinformasi merusak fondasi ilmu pengetahuan di universitas.
Sudut pandang profesional dari para peneliti senior menyarankan agar dosen mulai mewajibkan mahasiswa untuk melampirkan bukti verifikasi fisik dari referensi yang digunakan. Hal ini mungkin terasa kuno, namun sangat efektif untuk memastikan proses belajar yang jujur. Menjadi penjaga nalar berarti dosen harus lebih cerdas dari mesin dalam mendeteksi anomali data. Dosen perlu memahami logika di balik sebuah argumen, sehingga ketika muncul sebuah kesimpulan yang "terlalu sempurna" namun tidak logis, dosen dapat segera melakukan intervensi kognitif untuk meluruskan pola pikir mahasiswa.
Dosen juga memegang peran penting dalam mengedukasi mahasiswa tentang bias algoritma. AI seringkali mencerminkan prasangka yang ada dalam data latihnya, yang bisa jadi bertentangan dengan nilai-nilai lokal atau kebenaran universal. Dosen harus mampu membongkar bias tersebut di ruang kuliah, menjadikan jawaban AI sebagai bahan kritik, bukan sebagai kebenaran mutlak. Penjagaan mutu akademik di sini berarti menjaga agar ilmu pengetahuan tetap bersifat objektif dan bebas dari manipulasi teknologi yang tidak terlihat. Peran ini menempatkan dosen sebagai penjaga moral intelektual di garis depan.
Tantangan bagi dosen adalah bagaimana menjaga ketelitian ini di tengah beban mengajar yang tinggi. Universitas harus menyediakan alat bantu bagi dosen, seperti asisten peneliti atau sistem pendukung verifikasi data, agar tugas menjaga nalar tidak menjadi beban yang mustahil dipikul sendirian. Kerjasama tim antar-dosen juga penting untuk saling berbagi temuan mengenai pola-pola disinformasi baru yang muncul dari AI. Penjaminan mutu pendidikan tinggi adalah kerja kolektif untuk memastikan bahwa setiap gelar yang dikeluarkan didasarkan pada pengetahuan yang benar dan terverifikasi secara ketat.
Sebagai penutup, peran dosen sebagai verifikator data adalah bentuk pengabdian terhadap kebenaran di tengah badai digital. Skor dan nilai tinggi tidak akan berarti apa-apa jika dibangun di atas pasir halusinasi mesin. Dosen harus tetap menjadi sosok yang paling keras kepala dalam menuntut bukti dan logika yang kuat dari setiap mahasiswanya. Dengan ketegasan dalam memverifikasi nalar, dosen sedang menyelamatkan masa depan ilmu pengetahuan dari kehancuran kredibilitas. Kebenaran adalah mata uang utama dalam dunia akademik, dan dosen adalah penjaganya yang paling setia.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah