Mencari Makna Prestasi di Tengah Ledakan Angka
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Prestasi akademik yang semakin tinggi kini sering hadir tanpa kejelasan makna, seolah angka besar cukup untuk menjelaskan kualitas seseorang tanpa perlu ditanya proses dan kedalaman berpikir di baliknya. Banyak capaian terlihat mengesankan di atas kertas. Namun ketika dicermati lebih jauh, prestasi tersebut kerap berdiri sendiri tanpa konteks kemampuan nyata. Angka menjadi bahasa utama yang dipercaya. Kepercayaan ini tumbuh lama dan diterima sebagai kewajaran. Sedikit yang berani mempertanyakan apakah prestasi masih relevan sebagai alat ukur. Padahal kegelisahan itu semakin terasa di berbagai ruang diskusi.
Inflasi nilai tidak terjadi secara tiba tiba, melainkan terbentuk dari kebiasaan kolektif yang menormalisasi capaian tinggi. Ketika nilai besar menjadi standar umum, makna keunggulan pun bergeser. Prestasi tidak lagi mencerminkan perbedaan kualitas. Semua terlihat unggul, tetapi tidak semua benar benar siap. Dalam kondisi ini, nilai kehilangan daya seleksinya. Angka hanya menunjukkan kepatuhan terhadap sistem penilaian. Kompetensi justru tersembunyi di balik keseragaman capaian. Fenomena ini membuat prestasi semakin sulit dipercaya.
Situasi tersebut berdampak pada cara individu memaknai usaha belajar. Banyak yang mengejar hasil tanpa benar benar memahami proses. Strategi belajar diarahkan untuk memenuhi kriteria penilaian. Pemahaman mendalam sering dianggap tidak efisien. Waktu dan energi difokuskan pada apa yang dinilai, bukan apa yang bermakna. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis tidak terasah secara optimal. Prestasi tinggi diraih dengan pendekatan minimal risiko. Proses belajar kehilangan ruh eksploratifnya.
Dalam jangka panjang, inflasi nilai membentuk budaya akademik yang rapuh. Diskusi cenderung berhenti pada permukaan. Gagasan jarang diuji secara serius karena takut salah. Kesalahan dipandang sebagai ancaman reputasi. Padahal kesalahan adalah bagian penting dari pertumbuhan intelektual. Ketika ruang untuk keliru menyempit, ruang untuk belajar ikut menyempit. Budaya ini tidak melahirkan ketangguhan berpikir. Yang tumbuh justru kecakapan menjaga citra.
Masalah lain yang muncul adalah ketimpangan antara ekspektasi dan kenyataan. Prestasi tinggi membangun harapan besar terhadap kemampuan seseorang. Namun ketika kemampuan tersebut diuji dalam situasi kompleks, hasilnya sering tidak sebanding. Kekecewaan pun muncul dari berbagai arah. Individu merasa tidak siap, sementara lingkungan merasa tertipu oleh angka. Ketegangan ini menciptakan krisis kepercayaan. Prestasi yang seharusnya membanggakan justru menjadi sumber tekanan. Nilai kehilangan fungsi protektifnya.
Fenomena ini menuntut refleksi mendalam tentang apa yang sebenarnya ingin dicapai dari pendidikan intelektual. Apakah prestasi hanya soal angka, atau tentang kemampuan berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab. Tanpa redefinisi makna prestasi, inflasi nilai akan terus berulang. Sistem penilaian perlu memberi ruang pada proses, bukan hanya hasil. Tantangan intelektual harus kembali dihargai. Keberanian untuk tidak sempurna perlu dinormalisasi. Tanpa itu, prestasi akan terus kosong makna.
Mencari makna prestasi di tengah ledakan angka bukan tugas mudah, tetapi menjadi keharusan. Prestasi perlu dikembalikan sebagai cermin pertumbuhan, bukan sekadar simbol keberhasilan. Angka seharusnya membantu refleksi, bukan menggantikan penilaian kritis. Ketika prestasi diukur dengan kejujuran dan kedalaman, inflasi nilai bisa ditekan. Akademik pun kembali menjadi ruang pembentukan nalar. Di sanalah prestasi menemukan maknanya kembali. Bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai jejak proses berpikir.
###
Penulis : Resinta Aini Zakiyah