Mendekonstruksi Kurikulum Moral sebagai Jangkar Etis di Era Disrupsi Informasi Global
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Pendidikan moral pada era kontemporer tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar transmisi nilai satu arah yang bersifat dogmatis dan kaku. Fenomena disrupsi informasi global telah menciptakan ruang publik yang riuh dengan narasi-narasi yang saling bertentangan secara diametral. Kurikulum pendidikan harus mampu mendekonstruksi pemahaman lama untuk membangun landasan etis yang lebih relevan dengan tantangan zaman. Keberadaan teknologi digital yang masif menuntut individu untuk memiliki kemampuan filtrasi informasi berdasarkan prinsip moralitas yang kuat. Tanpa adanya upaya rekonstruksi kurikulum, institusi pendidikan hanya akan menghasilkan lulusan yang cerdas secara kognitif namun rapuh dalam integritas. Oleh karena itu, dekonstruksi kurikulum menjadi keniscayaan untuk memastikan pendidikan tetap menjadi kompas di tengah ketidakpastian global yang kian kompleks.
Proses dekonstruksi ini melibatkan peninjauan kembali terhadap materi-materi moralitas yang selama ini dianggap sudah mapan namun sering kali gagap menghadapi realitas media sosial. Peserta didik perlu diajak untuk memahami bahwa etika bukan hanya tentang benar dan salah dalam ruang vakum, melainkan tentang dampak tindakan dalam ekosistem digital. Literasi media harus diintegrasikan ke dalam substansi pendidikan moral agar siswa mampu mengenali disinformasi yang dirancang untuk memecah belah. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber kebenaran, melainkan bertransformasi menjadi fasilitator dialog etis yang kritis. Melalui pendekatan ini, kurikulum moral akan berfungsi sebagai jangkar yang mencegah masyarakat terombang-ambing oleh gelombang populisme dan hoaks. Keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk merumuskan kembali nilai-nilai luhur dalam konteks globalisasi yang serba cepat.
Di tengah polarisasi sosial yang tajam, kurikulum moral yang telah didekonstruksi harus mampu menawarkan ruang bagi keberagaman perspektif tanpa mengorbankan prinsip keadilan. Dunia pendidikan memikul tanggung jawab besar untuk menjembatani kesenjangan ideologis yang sering kali dipicu oleh fanatisme buta. Strategi pembelajaran harus diarahkan pada pembentukan empati intelektual yang memungkinkan seseorang memahami posisi orang lain tanpa harus setuju sepenuhnya. Penguatan nilai-nilai kemanusiaan universal menjadi inti dari upaya menjaga keharmonisan di tengah perbedaan pandangan politik yang ekstrem. Jika kurikulum tetap bersifat konvensional, maka pendidikan akan kehilangan relevansinya dalam menjawab persoalan fragmentasi sosial yang kian mengkhawatirkan. Sinkronisasi antara kebijakan pendidikan pusat dan implementasi di tingkat akar rumput menjadi kunci keberhasilan transformasi ini.
Lebih lanjut, jangkar etis yang kuat hanya dapat terbentuk jika pendidikan moral mampu menyentuh aspek afektif dan psikomotorik, bukan sekadar ranah kognitif. Peserta didik harus dibiasakan untuk mengambil keputusan etis dalam simulasi kasus nyata yang mencerminkan dinamika politik global saat ini. Hal ini bertujuan agar mereka memiliki ketahanan mental saat dihadapkan pada tekanan kelompok yang cenderung bersifat intoleran dan eksklusif. Pendidikan moral yang transformatif harus mampu menjawab tantangan mengenai bagaimana menjadi warga dunia yang baik di era pascakebenaran atau post-truth. Kolaborasi lintas disiplin ilmu, seperti psikologi sosial dan sosiologi politik, akan memperkaya substansi kurikulum yang sedang dikembangkan. Dengan demikian, lulusan pendidikan kita tidak hanya menjadi penonton dalam panggung global, tetapi menjadi aktor perubahan yang berintegritas.
Sebagai simpulan, masa depan peradaban manusia sangat bergantung pada sejauh mana institusi pendidikan mampu melakukan adaptasi terhadap perubahan paradigma moral. Disrupsi informasi tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat fondasi etika bangsa. Pemerintah, pendidik, dan masyarakat harus bersinergi dalam mengawal proses dekonstruksi kurikulum moral agar tetap berada pada koridor kebenaran ilmiah dan nilai luhur. Keberhasilan dalam membangun jangkar etis ini akan menentukan posisi bangsa dalam percaturan politik global yang semakin kompetitif. Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang hasilnya akan terlihat pada kualitas kepemimpinan masa depan yang bebas dari pragmatisme sempit. Mari kita jadikan pendidikan moral sebagai pilar utama dalam menyongsong tatanan dunia yang lebih damai dan beradab melalui aksi nyata yang terstruktur.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.