Menganalisis Fenomena Learning Loss dan Degradasi Mentalitas Pembelajar Pasca Libur Panjang
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Isu learning loss atau hilangnya kemampuan akademik selama masa jeda sekolah kini menjadi perhatian utama dalam dunia pendidikan dasar. Fenomena ini bukan hanya sekadar penurunan skor tes, melainkan mencakup kemunduran mentalitas pembelajar yang sulit untuk dipulihkan kembali. Siswa yang tidak terpapar aktivitas intelektual selama libur panjang cenderung mengalami stagnasi dalam kemampuan literasi dan numerasi. Penurunan ini terjadi karena saraf kognitif memerlukan latihan terus-menerus agar tetap berfungsi dengan efisiensi yang maksimal. Jika jeda waktu belajar terlalu lama tanpa adanya stimulasi, maka koneksi pemahaman yang telah terbentuk dapat melemah. Oleh karena itu, analisis mendalam mengenai dampak liburan terhadap penurunan kualitas belajar menjadi sangat relevan saat ini.
Degradasi mentalitas pembelajar ditandai dengan munculnya sikap apatis dan rendahnya daya juang siswa dalam menghadapi materi pelajaran yang kompleks. Libur panjang yang diisi hanya dengan kegiatan hiburan digital tanpa batas sering kali merusak dopamin alami dalam proses belajar. Siswa menjadi lebih cepat merasa bosan dan frustrasi ketika dihadapkan pada tugas yang memerlukan pemikiran kritis yang mendalam. Mereka kehilangan ketajaman naluri bertanya dan eksplorasi yang biasanya muncul dalam interaksi kelas yang aktif. Gejala ini merupakan sinyal bahaya bahwa lingkungan luar sekolah belum mampu mendukung keberlanjutan proses intelektual anak. Dampak psikologis ini jauh lebih sulit diperbaiki dibandingkan sekadar mengulang materi pelajaran yang terlupakan.
Dalam perspektif pedagogis, learning loss menciptakan kesenjangan yang makin lebar antara siswa yang didampingi secara intensif dengan yang tidak. Ketidakadilan akses terhadap aktivitas edukatif selama liburan memperparah ketimpangan prestasi akademik di sekolah dasar. Siswa dari latar belakang keluarga yang kurang peduli terhadap pendidikan akan mengalami kemunduran yang jauh lebih drastis. Hal ini menunjukkan bahwa liburan panjang dapat menjadi faktor determinan dalam peningkatan angka kegagalan akademik di masa depan. Guru di sekolah dituntut untuk bekerja ekstra keras dalam melakukan diagnosis awal terhadap tingkat kemampuan siswa pasca libur. Tanpa pemetaan yang akurat, proses pengajaran baru akan menjadi tidak efektif dan cenderung salah sasaran.
Mentalitas pembelajar sejati seharusnya bersifat menetap dan tidak terpengaruh oleh perubahan kalender akademik yang fluktuatif. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa disiplin belajar siswa masih bersifat rapuh dan sangat bergantung pada kontrol sekolah. Lemahnya internalisasi nilai-nilai pembelajar sepanjang hayat membuat siswa merasa bahwa belajar adalah beban yang harus dihindari saat liburan. Cara pandang yang keliru ini perlu diubah melalui pendekatan pendidikan karakter yang lebih fundamental dan aplikatif. Sekolah harus mampu menanamkan bahwa pengetahuan adalah kebutuhan dasar yang tidak boleh berhenti hanya karena lonceng sekolah berhenti berbunyi. Transformasi paradigma ini memerlukan waktu dan konsistensi dari seluruh elemen pemangku kepentingan pendidikan.
Upaya mitigasi terhadap degradasi ini harus melibatkan kebijakan kurikulum yang lebih fleksibel namun tetap menjamin kontinuitas pembelajaran. Program literasi berbasis keluarga dapat diimplementasikan sebagai sarana untuk menjaga ketajaman kognitif anak selama di rumah. Selain itu, pemanfaatan teknologi pendidikan yang bersifat edukatif-hiburan dapat menjadi solusi bagi siswa untuk tetap belajar secara mandiri. Evaluasi berkala terhadap dampak libur panjang harus dilakukan oleh pihak sekolah untuk menentukan durasi ideal masa jeda. Melalui langkah-langkah yang terintegrasi, fenomena learning loss diharapkan dapat ditekan serendah mungkin demi masa depan generasi bangsa. Kesadaran kolektif akan bahaya penurunan kualitas belajar ini adalah kunci utama dalam menjaga standar pendidikan nasional.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.