“Mengapa IPK Tinggi Tidak Jamin Kompetensi? Fenomena yang Mencemaskan di Lingkungan Kampus Indonesia”
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di lingkungan kampus Indonesia, IPK telah lama dianggap sebagai ukuran utama keberhasilan akademik seorang mahasiswa. Banyak mahasiswa yang berlomba-lomba untuk mendapatkan IPK tinggi, bahkan terkadang dengan mengorbankan waktu untuk mengembangkan keterampilan lain yang tidak tercatat dalam transkrip nilai. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa IPK tinggi tidak selalu menjamin bahwa seseorang memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di luar kampus, baik di dunia kerja maupun dalam kehidupan pribadi.
Salah satu alasan utama mengapa IPK tidak selalu sesuai dengan kompetensi adalah karena sistem penilaian di sebagian besar perguruan tinggi masih berfokus pada kemampuan menghafal materi dan menjawab pertanyaan yang bersifat teoritis. Ujian dan tugas yang diberikan seringkali tidak mengukur kemampuan mahasiswa untuk menganalisis masalah secara kritis, menemukan solusi yang kreatif, atau bekerja sama dengan orang lain. Akibatnya, mahasiswa yang pandai menghafal dapat memperoleh nilai tinggi tanpa benar-benar memahami konsep yang dipelajari atau mampu menerapkannya dalam situasi nyata.
Selain itu, terdapat budaya di beberapa kampus di mana nilai tinggi dianggap sebagai satu-satunya tujuan utama selama masa studi. Hal ini membuat banyak mahasiswa hanya fokus pada mata kuliah yang dianggap mudah mendapatkan nilai tinggi atau menghindari mata kuliah yang lebih menantang namun memiliki nilai tambah bagi pengembangan kompetensi mereka. Beberapa mahasiswa bahkan mencari cara-cara yang tidak benar untuk mendapatkan nilai tinggi, seperti mencontek atau meminta bantuan yang tidak sah dalam menyelesaikan tugas, yang jelas tidak akan memberikan manfaat bagi pengembangan kemampuan mereka.
Pengaruh dari faktor eksternal juga tidak dapat diabaikan. Banyak perusahaan di Indonesia masih menggunakan IPK sebagai syarat utama dalam proses seleksi karyawan, yang membuat mahasiswa semakin fokus pada pencapaian nilai akademik tinggi. Padahal, banyak kompetensi penting seperti kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi tidak dapat diukur melalui IPK. Hal ini menciptakan siklus yang tidak sehat di mana mahasiswa hanya berusaha memenuhi syarat formal tanpa memperhatikan pengembangan diri secara menyeluruh.
Untuk mengubah paradigma ini, diperlukan perubahan pandangan dari seluruh elemen masyarakat. Perguruan tinggi perlu mengembangkan sistem penilaian yang lebih komprehensif yang tidak hanya mengukur pengetahuan teoritis tetapi juga kompetensi praktis dan keterampilan hidup. Dunia usaha juga perlu lebih terbuka untuk melihat kualifikasi lain selain IPK, seperti pengalaman magang, proyek yang pernah diselesaikan, atau sertifikasi yang dimiliki. Sementara itu, mahasiswa perlu menyadari bahwa pendidikan tinggi bukan hanya tentang mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga tentang mengembangkan diri menjadi individu yang mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan dunia kerja.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah