Mengembalikan Makna Prestasi di Tengah Inflasi Nilai
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Prestasi akademik sejatinya lahir dari proses belajar yang jujur, mendalam, dan menantang, namun inflasi nilai telah mengaburkan makna prestasi itu sendiri hingga angka sering kali berdiri sendiri tanpa benar benar merepresentasikan kemampuan nyata yang dimiliki seseorang. Nilai tinggi tampak menggembirakan di permukaan dan memberi kesan keberhasilan kolektif. Banyak capaian terlihat membanggakan dan menenangkan. Namun ketika hampir semua orang berada pada posisi unggul, makna keunggulan menjadi kabur. Prestasi kehilangan daya pembeda yang seharusnya melekat padanya. Kebanggaan intelektual pun perlahan melemah. Situasi ini menuntut refleksi serius tentang arah penilaian akademik.
Inflasi nilai tidak hanya memengaruhi sistem penilaian, tetapi juga cara individu memaknai usaha belajar. Fokus sering bergeser dari pemahaman menuju perolehan hasil akhir. Proses panjang yang penuh tantangan cenderung dihindari. Strategi belajar diarahkan agar aman secara nilai. Tantangan intelektual dipilih secara selektif. Kesalahan dipandang sebagai risiko, bukan peluang belajar. Dalam kondisi ini, prestasi menjadi tujuan administratif, bukan pencapaian intelektual.
Pengembalian makna prestasi perlu dimulai dari penegasan standar yang konsisten dan transparan. Standar yang jelas menciptakan rasa keadilan dan kepercayaan. Nilai tinggi harus benar benar lahir dari penguasaan kompetensi, bukan kompromi sistem. Proses evaluasi perlu dirancang lebih menantang dan bermakna. Ketelitian dalam penilaian harus dijaga secara berkelanjutan. Tanpa standar yang tegas, inflasi nilai akan terus berulang. Angka akan semakin jauh dari kualitas sesungguhnya.
Selain standar, budaya refleksi harus diperkuat dalam proses belajar. Belajar tidak seharusnya berhenti pada hasil akhir semata. Proses memahami, mencoba, gagal, dan memperbaiki justru menjadi inti pembelajaran. Kesalahan perlu dipandang sebagai bagian alami dari pertumbuhan intelektual. Prestasi bukan tentang kesempurnaan instan. Ia adalah hasil perjalanan berpikir yang panjang dan tidak selalu lurus. Makna ini perlu dihidupkan kembali secara konsisten.
Apresiasi terhadap kompetensi nyata juga menjadi kunci penting dalam mengatasi inflasi nilai. Pengakuan tidak hanya diberikan pada angka, tetapi pada kemampuan berpikir kritis, berargumentasi, dan menyelesaikan masalah. Ketika kompetensi nyata dihargai, motivasi belajar bergeser secara alami. Individu terdorong untuk memahami, bukan sekadar menyelesaikan. Belajar kembali dipahami sebagai proses pengembangan diri. Prestasi pun menjadi tujuan yang bermakna dan membanggakan.
Inflasi nilai juga menuntut kepemimpinan akademik yang berani dan berintegritas. Keputusan penilaian tidak boleh sekadar mengikuti arus kenyamanan kolektif. Kualitas harus ditempatkan sebagai prioritas utama. Keberanian menjaga standar sering kali tidak populer, tetapi sangat diperlukan. Tanpa kepemimpinan yang kuat, sistem akan mudah kembali pada pola lama. Zona nyaman akan terus dipertahankan meski kualitas tergerus.
Mengembalikan makna prestasi adalah kerja jangka panjang yang membutuhkan komitmen bersama. Nilai harus kembali menjadi cermin kompetensi, bukan sekadar angka administratif. Dunia akademik perlu berani berbenah secara konsisten dan jujur. Tanpa langkah nyata, inflasi nilai akan terus mencemaskan dan melemahkan kepercayaan. Masa depan kualitas intelektual bergantung pada keberanian mengambil sikap hari ini. Prestasi yang bermakna adalah fondasi bagi kemajuan yang sesungguhnya.
###
Penulis : Resinta Aini Zakiyah.