Mengembangkan Literasi Membaca Siswa SD melalui Interaksi Dialogis bersama ChatGPT
Literasi membaca merupakan fondasi utama
keberhasilan belajar siswa sekolah dasar, terutama di era digital yang menuntut
kemampuan memahami teks secara kritis. Anak membutuhkan pendekatan baru yang
membuat proses membaca terasa lebih hidup dan interaktif. ChatGPT dapat menjadi
alat pendukung yang memperkaya pengalaman membaca melalui dialog reflektif.
Melalui interaksi tersebut, siswa tidak sekadar membaca, tetapi juga memproses
makna secara lebih mendalam.
Interaksi dialogis yang diberikan ChatGPT
mendorong siswa bertanya dan mengklarifikasi isi bacaan. Model ini membantu
mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis, terutama dalam memahami ide
utama dan kosakata baru. Pendekatan tersebut selaras dengan prinsip
konstruktivisme yang menekankan pembangunan pengetahuan melalui aktivitas
aktif. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan untuk menguatkan pemahaman
bacaan secara mandiri.
ChatGPT juga memungkinkan latihan membaca
berjenjang sesuai kemampuan siswa. Guru dapat memilihkan tingkat kesulitan yang
tepat dan meminta siswa mendiskusikan isi bacaan melalui dialog. Strategi ini
mendukung pembelajaran berdiferensiasi yang memperhatikan kebutuhan belajar
individu. Keberagaman teks membantu siswa melihat membaca sebagai proses
eksplorasi, bukan beban akademik.
Meskipun demikian, pendampingan guru tetap
diperlukan untuk memastikan penggunaan teknologi berlangsung secara aman dan
terarah. Siswa perlu dibimbing agar mampu menilai kredibilitas informasi dan
tidak bergantung sepenuhnya pada jawaban otomatis. Pendekatan ini juga melatih
literasi digital, khususnya kemampuan memverifikasi informasi. Dengan
pengawasan yang tepat, teknologi menjadi mitra belajar yang bernilai.
Integrasi ChatGPT dalam pembelajaran
membaca membantu sekolah memperkaya pengalaman literasi siswa. Anak menjadi
lebih berani berdialog, bertanya, dan memahami teks secara mendalam. Pengalaman
ini memperkuat kemampuan berpikir tingkat tinggi yang penting untuk
keberhasilan belajar jangka panjang. Pada akhirnya, literasi membaca berkembang
sebagai keterampilan hidup yang bermakna.
###
Penulis:
Arumita Wulan Sari