Mengenalkan Sistem Informasi Cuaca kepada Siswa Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Guru memperkenalkan website informasi cuaca sebagai sumber belajar. Anak melihat simbol awan, matahari, dan hujan. Guru menjelaskan arti setiap simbol. Siswa membandingkan kondisi langit dengan informasi digital. Aktivitas ini membuat mereka memahami prakiraan cuaca. Pembelajaran terlihat nyata. Cuaca menjadi topik ilmiah.
Siswa mencatat pembaruan cuaca setiap hari selama seminggu. Guru memberi format tabel sederhana. Anak memasukkan data dari pengamatan dan situs cuaca. Mereka belajar mencari korelasi perubahan suhu. Analisis ini melatih logika dan sains awal. Diskusi kelas berlangsung aktif. Cuaca menjadi latihan berpikir.
Guru menghubungkan sistem cuaca dengan kehidupan masyarakat. Contoh penundaan panen saat curah hujan tinggi. Anak belajar dampak cuaca pada ekonomi. Visualisasi grafik membuat penjelasan lebih mudah. Siswa mulai sadar pentingnya informasi cuaca. Lingkungan menjadi bahan belajar. Cuaca relevan dengan realitas.
Siswa menonton video YouTube mengenai ramalan cuaca. Guru menunjukkan cara penyiar menyampaikan informasi. Anak meniru cara membaca laporan cuaca. Mereka membuat prakiraan sederhana untuk keesokan hari. Aktivitas ini menyenangkan sekaligus edukatif. Public speaking berkembang. Cuaca melatih keberanian.
Guru memberi tugas membuat mini buku cuaca. Siswa menempel gambar awan, matahari, dan badai. Mereka menuliskan ciri setiap cuaca. Buku dipresentasikan di depan kelas. Guru memberi apresiasi pada kreativitas. Anak bangga hasilnya dikumpulkan. Cuaca menjadi tema seni.
Orang tua membantu anak mengamati cuaca di rumah. Anak mengirimkan laporan melalui WA Web. Guru menanggapi dengan acuan ilmiah. Kolaborasi ini membuat belajar tidak berhenti di sekolah. Data lengkap dikumpulkan untuk evaluasi. Anak merasakan belajar nyata. Cuaca menjadi pembelajaran sepanjang hari.
Secara keseluruhan, pengenalan sistem cuaca membantu siswa memahami alam. Guru dapat memanfaatkan media digital. Siswa belajar analisis data. Orang tua mendukung pengamatan harian. Pengetahuan diterapkan secara langsung. Teknologi memperluas cakupan belajar. Cuaca menjadi kurikulum hidup.
Penulis: Nia Ayu Anggraeni
Sumber: Google