Menggali Nilai-nilai Pancasila Melalui Cerita Rakyat
S2dikdas.fip.unesa.ac.id. SURABAYA— Cerita rakyat yang selama ini
dikenal sebagai bagian dari hiburan dan tradisi lisan, kini dimanfaatkan
sebagai media pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan dasar. Para pendidik
mulai mengintegrasikan cerita rakyat ke dalam kegiatan belajar mengajar untuk
menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila kepada peserta didik sejak dini. Langkah
ini dinilai sebagai upaya strategis dalam membentuk karakter dan moral anak-anak
bangsa di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Cerita rakyat mengandung nilai-nilai universal seperti kejujuran,
tanggung jawab, keadilan, dan keberanian yang sejalan dengan sila-sila dalam
Pancasila. Melalui tokoh-tokoh dalam cerita seperti anak yang patuh kepada
orang tua, pemimpin yang adil, atau sosok yang gigih dalam menghadapi
tantangan, peserta didik diajak untuk memahami makna nilai-nilai tersebut
secara kontekstual.
Pendidik memanfaatkan cerita rakyat tidak hanya sebagai bahan
bacaan, tetapi juga sebagai sarana refleksi, diskusi, hingga drama atau
permainan peran. Dengan metode ini, peserta didik tidak hanya memahami cerita
sebagai narasi, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan situasi nyata dalam
kehidupan sehari-hari.
Penggunaan cerita rakyat dalam pembelajaran sejalan dengan prinsip
Kurikulum Merdeka yang memberikan keleluasaan kepada guru dalam memilih
pendekatan yang relevan dan kontekstual. Metode ini dinilai efektif karena
mampu menjembatani antara nilai-nilai lokal yang terkandung dalam cerita rakyat
dengan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara. Dengan mendengarkan,
membaca, dan memerankan cerita rakyat, peserta didik tidak hanya dilatih
kemampuan literasi, tetapi juga diperkuat sisi afektif dan sosialnya. Hal ini
menjadi bagian dari proses pendidikan karakter yang menyeluruh.
Pelibatan keluarga dalam proses pembelajaran berbasis cerita rakyat
juga menjadi perhatian. Beberapa kegiatan seperti membaca bersama di rumah atau
mendongeng saat waktu luang dinilai mampu memperkuat ikatan emosional antara
anak dan orang tua, sekaligus memperkaya pemahaman anak tentang nilai-nilai
kehidupan yang terkandung dalam cerita.
Menggali nilai-nilai Pancasila melalui cerita rakyat bukan hanya
menjadi alternatif pembelajaran yang kreatif, tetapi juga langkah penting dalam
memperkuat jati diri bangsa. Ketika peserta didik mampu melihat relevansi
antara kisah-kisah tradisional dengan kehidupan mereka saat ini, maka
pendidikan karakter tidak lagi bersifat teoritis, melainkan menjadi bagian dari
pembentukan pribadi yang utuh. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya
mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
Penulis: Shevila Salsabila Al Aziz
Sumber: Google