Menggugat Narasi Normalitas dalam Ruang Belajar Dasar yang Ramah Disabilitas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Konsep "normalitas" yang selama ini dominan dalam sistem pendidikan dasar perlu ditinjau ulang secara kritis agar tidak menjadi alat marginalisasi bagi siswa disabilitas. Ruang belajar sering kali didesain berdasarkan standar rata-rata yang mengasumsikan setiap anak memiliki kemampuan sensorik, motorik, dan kognitif yang seragam. Narasi normalitas ini secara implisit melabeli siswa berkebutuhan khusus sebagai "abnormal" atau individu yang perlu "diperbaiki" agar sesuai dengan standar umum. Padahal, disabilitas seharusnya dipahami sebagai salah satu bentuk keragaman manusia yang memiliki hak yang sama untuk diakomodasi tanpa syarat. Menggugat narasi ini berarti merancang ulang lingkungan sekolah yang sejak awal bersifat universal dan inklusif bagi semua kondisi fisik maupun psikis. Pendidikan dasar harus menjadi garda terdepan dalam merayakan keunikan sebagai sebuah kewajaran, bukan sebagai sebuah penyimpangan.
Implementasi sekolah dasar ramah disabilitas menuntut adanya perubahan radikal pada desain arsitektur dan lingkungan fisik sekolah yang selama ini cenderung eksklusif. Gedung sekolah yang hanya menyediakan akses tangga tanpa jalur landai adalah bentuk nyata dari pengukuhan narasi normalitas yang tidak inklusif. Aksesibilitas fisik bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan prasyarat utama agar siswa disabilitas dapat menjalankan hak mobilitas mereka secara mandiri. Selain infrastruktur, ketersediaan alat bantu belajar yang responsif terhadap kebutuhan hambatan penglihatan, pendengaran, maupun intelektual sangatlah krusial. Ketika lingkungan fisik dan perangkat pendukung sudah ramah bagi semua, maka hambatan yang dialami siswa disabilitas akan berkurang secara signifikan. Lingkunganlah yang seharusnya beradaptasi dengan kebutuhan manusia, bukan manusia yang dipaksa tunduk pada keterbatasan lingkungan.
Peluang besar untuk mengubah narasi ini terletak pada pengembangan kurikulum yang berbasis pada prinsip desain pembelajaran universal (Universal Design for Learning). Pendekatan ini memungkinkan guru untuk menyajikan materi pelajaran dalam berbagai format yang dapat diakses oleh semua siswa, terlepas dari hambatan belajar mereka. Dengan memberikan pilihan metode ekspresi dan keterlibatan, siswa berkebutuhan khusus dapat menunjukkan potensi terbaiknya dengan cara yang paling nyaman bagi mereka. Hal ini akan menggeser fokus penilaian dari "apa yang tidak bisa dilakukan" menjadi "apa yang bisa dicapai" oleh setiap siswa secara unik. Guru tidak lagi berperan sebagai penilai standar tunggal, melainkan sebagai desainer pengalaman belajar yang beragam dan menantang. Inovasi pedagogis ini akan secara efektif meruntuhkan sekat-sekat normalitas yang selama ini membelenggu kreativitas di ruang kelas.
Namun, hambatan sosiokultural masih menjadi tantangan berat dalam meredefinisikan makna normalitas di lingkungan sekolah dan masyarakat. Prasangka bahwa siswa disabilitas memiliki kapasitas intelektual yang rendah masih sering memengaruhi ekspektasi guru terhadap pencapaian belajar mereka. Rendahnya ekspektasi ini dapat berujung pada pemberian materi yang terlalu sederhana dan tidak menantang, yang justru menghambat pertumbuhan potensi siswa. Penting bagi institusi pendidikan tinggi pencetak guru untuk mengintegrasikan perspektif studi disabilitas dalam setiap mata kuliah kependidikan. Pendidik masa depan harus dibekali dengan kemampuan analisis kritis untuk membongkar bias-bias personal mengenai kemampuan manusia. Dengan demikian, mereka akan mampu menjadi agen perubahan yang aktif dalam menciptakan budaya sekolah yang benar-benar menghargai diversitas.
Menciptakan ruang belajar yang ramah disabilitas adalah langkah nyata dalam membangun tatanan sosial yang lebih adil dan bermartabat bagi masa depan bangsa. Ketika sekolah dasar mampu melampaui narasi normalitas, mereka sedang mendidik generasi yang akan memandang perbedaan sebagai kekuatan kolektif. Setiap anak akan belajar bahwa nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh seberapa dekat mereka dengan standar rata-rata, melainkan oleh kontribusi unik yang mereka berikan. Perjuangan ini memang tidak mudah dan memerlukan dukungan kebijakan yang konsisten serta pendanaan yang berkelanjutan dari negara. Namun, hasil yang akan dipetik adalah sebuah masyarakat yang lebih inklusif, di mana tidak ada satu pun anak yang merasa ditinggalkan di belakang. Pendidikan dasar adalah fondasi awal untuk membuktikan bahwa setiap jiwa berhak mendapatkan panggung yang sama untuk bersinar.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.