Menghapus "Math-Anxiety": Pendekatan Humanis dalam Gerakan Numerasi Nasional
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Salah satu hambatan terbesar dalam meningkatkan skor PISA Indonesia adalah fenomena math-anxiety atau ketakutan berlebih terhadap matematika yang dialami oleh mayoritas siswa sekolah dasar. Menjawab tantangan psikologis ini, Gerakan Numerasi Nasional (GNN) 2026 memperkenalkan pendekatan "Matematika Humanis" yang bertujuan meruntuhkan tembok ketakutan siswa terhadap angka sebelum masuk ke materi kognitif yang lebih berat. Pada pelaksanaannya di lapangan sejak pekan lalu, program ini fokus pada penciptaan lingkungan belajar yang aman, di mana setiap kesalahan logika siswa dihargai sebagai bagian berharga dari proses penemuan ilmiah, bukan sebagai kegagalan yang memalukan.
Data dari berbagai studi pascasarjana pendidikan menunjukkan bahwa rasa cemas terhadap matematika dapat menghambat fungsi memori kerja otak, yang berakibat pada penurunan drastis kemampuan pemecahan masalah. GNN mengatasi hal ini dengan melatih guru untuk menggunakan teknik "Disiplin Positif" dan komunikasi empatik dalam mengajarkan numerasi. Siswa didorong untuk berani berargumen dan mencoba berbagai cara untuk menemukan solusi, tanpa takut mendapatkan nilai merah. Transformasi atmosfer kelas yang lebih rileks namun tetap menantang secara intelektual terbukti mampu membangkitkan kembali rasa ingin tahu siswa yang selama ini terpendam di bawah tekanan ujian tradisional.
Penerapan pendekatan humanis ini juga melibatkan penggunaan alat peraga yang konkret dan menarik untuk meminimalisir abstraksi matematika yang seringkali membuat anak bingung. GNN memastikan bahwa setiap kelas awal di SD memiliki akses ke media pembelajaran yang bisa disentuh, dimainkan, dan dieksplorasi secara fisik. Dengan memanipulasi benda nyata, siswa dapat membangun pemahaman konsep yang kokoh tentang volume, berat, dan ruang sebelum beralih ke rumus-rumus abstrak. Langkah ini selaras dengan prinsip psikologi perkembangan anak, di mana pembelajaran bermakna harus dimulai dari hal-hal yang dapat dirasakan oleh panca indera mereka.
Selain itu, kurikulum GNN menghapus sistem perbandingan nilai antar-siswa yang kompetitif dan menggantinya dengan "Portofolio Kemajuan Personal". Setiap siswa diajak untuk melihat pertumbuhan kemampuan nalar mereka sendiri dari waktu ke waktu, sehingga motivasi belajar yang muncul bersifat intrinsik, bukan karena takut tertinggal dari teman. Analisis mendalam menunjukkan bahwa ketika tekanan sosial dikurangi, siswa justru lebih produktif dalam mencoba tantangan numerik yang lebih sulit. Penjagaan mutu di sini bermakna menjaga semangat belajar siswa agar tetap menyala, karena itulah mesin utama dari kecerdasan yang berkelanjutan.
GNN juga melakukan kampanye literasi bagi orang tua untuk tidak memberikan tekanan berlebih pada nilai angka, melainkan pada proses berpikir anak di rumah. Banyak orang tua tanpa sadar menularkan kecemasan matematika mereka sendiri kepada anak melalui ucapan atau tindakan yang menuntut hasil instan. Melalui lokakarya "Keluarga Numerasi", para orang tua diajarkan cara memberikan apresiasi pada usaha keras anak dalam memecahkan masalah logika. Sinergi antara ketenangan di sekolah dan dukungan positif di rumah menjadi formula ampuh untuk menghapus trauma kolektif bangsa terhadap pelajaran matematika.
Mahasiswa pascasarjana yang mendampingi program ini bertugas sebagai fasilitator emosional yang membantu guru mengenali tanda-tanda stres akademik pada siswa. Mereka memberikan strategi-strategi relaksasi kognitif yang dapat diterapkan sebelum memulai pelajaran numerasi yang menantang. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa siswa yang merasa bahagia dan dihargai di kelas memiliki skor nalar yang 30% lebih tinggi dibanding mereka yang belajar dalam tekanan. Ini membuktikan bahwa penjagaan mutu pendidikan dasar tidak boleh mengabaikan aspek kesehatan mental dan kesejahteraan emosional peserta didik.
Menghapus math-anxiety adalah langkah pertama yang paling krusial sebelum kita bicara tentang target skor PISA global. Gerakan Numerasi Nasional telah membuktikan bahwa dengan pendekatan yang lebih manusiawi, matematika bisa menjadi pelajaran yang dicintai oleh anak-anak Indonesia. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, generasi masa depan kita tidak akan lagi lari dari tantangan angka, melainkan akan menjadikannya sebagai alat untuk menaklukkan dunia. Inilah revolusi dari hati yang akan membawa pendidikan dasar Indonesia menuju standar kualitas dunia yang sesungguhnya.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah