Mengintegrasikan Nilai-nilai Pancasila dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Selama ini, matematika sering dipandang sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri, hanya berkutat pada angka, rumus, dan hitungan. Pandangan ini ternyata keliru dan perlu diubah. Sejak diterapkannya Kurikulum 2013 dan Peraturan Presiden Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, nilai-nilai Pancasila seharusnya sudah diintegrasikan ke dalam semua mata pelajaran, termasuk matematika. Penelitian yang dilakukan oleh Julaika dan Neni Mariana dari Universitas Negeri Surabaya menunjukkan bahwa matematika dan Pancasila sesungguhnya dapat dikaitkan dengan cara yang bermakna.
Penelitian ini menggunakan tiga metode pengumpulan data yang komprehensif: studi autoetnografi, studi literatur, dan wawancara dengan guru-guru sekolah dasar. Tujuannya adalah untuk mentransformasi konteks pembelajaran matematika melalui eksplorasi hubungan nilai-nilai Pancasila dengan konsep-konsep matematika, sekaligus mengetahui pandangan guru terhadap hasil eksplorasi tersebut. Hasilnya sangat menarik dan membuka wawasan baru tentang bagaimana matematika dapat menjadi sarana penanaman karakter bangsa.
Salah satu contoh menarik dari integrasi ini adalah konsep bilangan bulat dengan tanda positif dan negatif. Konsep ini dapat dianalogikan dengan kebaikan dan keburukan dalam perilaku manusia. Lebih jauh lagi, dalam operasi pengurangan bersusun, terdapat konsep "meminjam" dari digit angka yang ada di sebelah kiri tanpa ada istilah pengembalian. Fenomena ini mencerminkan nilai kepedulian dan gotong royong, di mana angka yang satu membantu angka yang lain. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar matematika, tetapi juga menumbuhkan rasa empati dan peduli terhadap sesama.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa eksplorasi nilai-nilai Pancasila berhasil mengubah pandangan peneliti dan guru sekolah dasar terhadap konteks pembelajaran matematika. Yang sebelumnya hanya dilihat sebagai pembelajaran tentang bilangan dan hitungan semata, kini berubah menjadi konteks pembelajaran yang sarat dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Matematika tidak lagi dipandang sebagai mata pelajaran yang kering dan terpisah dari kehidupan, melainkan dapat membawa konteks ideologi bangsa ke dalam proses pembelajaran.
Transformasi konteks pembelajaran ini membawa dampak signifikan bagi dunia pendidikan. Guru-guru menjadi lebih kreatif dalam mengaitkan konsep matematika dengan nilai-nilai karakter yang ingin ditanamkan. Siswa pun mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna karena mereka tidak hanya menghafal rumus, tetapi juga memahami bagaimana matematika dapat mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Pendekatan ini sejalan dengan semangat Penguatan Pendidikan Karakter yang menjadi fokus pendidikan nasional saat ini.
Penelitian ini membuka peluang baru bagi pengembangan pembelajaran matematika yang lebih holistik di sekolah dasar. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, pembelajaran matematika dapat menjadi lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa. Para guru diharapkan dapat terus mengeksplorasi berbagai konsep matematika lainnya yang dapat dikaitkan dengan nilai-nilai luhur bangsa, sehingga pendidikan karakter tidak hanya menjadi tanggung jawab mata pelajaran tertentu, tetapi menjadi bagian integral dari seluruh proses pembelajaran di sekolah.
Julaika, J., Mariana, N. (2018). Eksplorasi Nilai-nilai Pancasila untuk Mentransformasi Konteks dalam Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 6(3).