Menguji Integritas Kedisiplinan Belajar Anak di Masa Transisi Pasca Liburan Panjang
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya - Masa transisi pasca liburan panjang merupakan fase kritis yang menguji sejauh mana integritas kedisiplinan belajar telah tertanam dalam diri siswa sekolah dasar. Integritas kedisiplinan bukan hanya tentang kepatuhan pada aturan, melainkan kesetiaan siswa pada prinsip-prinsip belajar yang benar meskipun tanpa pengawasan. Selama liburan, siswa memiliki kebebasan penuh dalam mengelola waktu, sehingga saat itulah karakter asli mereka sebagai pembelajar dapat terlihat dengan jelas. Fenomena kembali ke sekolah sering kali menunjukkan adanya kesenjangan antara disiplin yang tampak di permukaan dengan disiplin yang telah terinternalisasi. Banyak siswa yang memerlukan paksaan eksternal kembali untuk memulai rutinitas akademik, yang menandakan bahwa disiplin mereka masih bersifat semu. Pengujian integritas ini menjadi indikator penting bagi keberhasilan program pendidikan karakter di tingkat dasar.
Krisis integritas kedisiplinan ini sering kali termanifestasi dalam bentuk pengabaian terhadap tugas-tugas rumah atau penurunan standar kualitas pekerjaan siswa. Masa libur yang terlalu permisif membuat siswa merasa bahwa aturan belajar bisa dilonggarkan sesuai dengan keinginan pribadi mereka sendiri. Ketika transisi menuju sekolah dimulai, mereka cenderung membawa sikap santai tersebut ke dalam ruang kelas yang seharusnya memiliki standar keteraturan yang tinggi. Hal ini menciptakan konflik antara ekspektasi guru dan realitas perilaku siswa yang baru saja kembali dari masa rekreasi panjang. Guru ditantang untuk tidak hanya mengajar materi, tetapi juga melakukan re-edukasi mengenai pentingnya integritas dalam setiap tindakan akademik. Proses pemulihan integritas kedisiplinan ini memerlukan ketegasan yang dibalut dengan pendekatan persuasif agar siswa kembali pada jalur yang benar.
Secara pedagogis, transisi ini seharusnya menjadi momentum bagi siswa untuk menunjukkan kedewasaan mental mereka dalam skala kecil dan sederhana. Kemampuan untuk bangun tepat waktu, menyiapkan perlengkapan sekolah sendiri, dan menyelesaikan tugas awal semester secara mandiri adalah wujud nyata dari integritas tersebut. Namun, jika siswa masih sangat bergantung pada bantuan penuh dari orang tua atau guru, berarti kedisiplinan mereka belum mencapai tahap integritas yang kokoh. Pendidikan dasar memegang peranan vital untuk mengubah disiplin yang bersifat instruksional menjadi disiplin yang bersifat sukarela dan penuh kesadaran. Pengulangan kebiasaan positif selama masa sekolah harus didesain sedemikian rupa agar tetap membekas dalam memori jangka panjang anak. Tanpa integritas, disiplin hanyalah topeng yang akan segera terlepas saat siswa diberikan sedikit kebebasan.
Implikasi dari rendahnya integritas kedisiplinan ini adalah terganggunya proses pencapaian target kurikulum yang telah direncanakan sebelumnya secara matang. Sekolah harus mengalokasikan waktu ekstra untuk memperbaiki perilaku siswa sebelum masuk ke dalam materi inti pembelajaran yang lebih mendalam. Hal ini mengakibatkan inefisiensi waktu yang berdampak pada kualitas pemahaman siswa terhadap pelajaran secara menyeluruh dan komprehensif. Integritas belajar yang rendah juga dapat memicu munculnya perilaku menyimpang lainnya, seperti keinginan untuk melakukan kecurangan saat menghadapi ujian atau tugas. Oleh sebab itu, penguatan nilai integritas harus menjadi tema utama dalam setiap kegiatan pasca liburan di lingkungan sekolah dasar. Kedisiplinan yang berintegritas akan menjadi modal utama siswa dalam menghadapi tantangan hidup yang lebih besar di masa depan.
Upaya memperkuat integritas kedisiplinan memerlukan sinergi yang harmonis antara keteladanan orang tua di rumah dan konsistensi guru di sekolah. Orang tua perlu menyadari bahwa memberikan kebebasan tanpa batas selama liburan justru dapat merusak integritas karakter sang anak secara perlahan namun pasti. Pemberian kepercayaan kepada anak untuk mengatur jadwal belajarnya sendiri selama libur dapat menjadi metode latihan integritas yang sangat efektif. Sementara itu, sekolah dapat memberikan penghargaan khusus bagi siswa yang mampu menjaga konsistensi disiplinnya meskipun baru saja kembali dari masa liburan. Dialog mengenai pentingnya menjadi pribadi yang jujur dan disiplin terhadap diri sendiri harus terus digaungkan dalam setiap kesempatan. Dengan pengawalan yang tepat pada masa transisi, integritas kedisiplinan anak akan tumbuh menjadi kekuatan karakter yang tidak mudah goyah.
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.