Mengukur Keberhasilan Kurikulum Merdeka dalam Mendidik Nalar Kritis Siswa
S2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Mengukur keberhasilan Kurikulum Merdeka dalam mendidik nalar kritis siswa membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan tidak hanya berbasis pada nilai akademik semata. Penilaian yang efektif harus mampu mengukur kemampuan siswa dalam menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, menyusun kesimpulan yang logis, serta mengkomunikasikan gagasan dengan jelas. Beberapa instrumen penilaian telah dikembangkan untuk tujuan ini, seperti tes berpikir kritis yang terstandarisasi, portofolio siswa, serta observasi kinerja siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Salah satu cara untuk mengukur keberhasilan adalah melalui penilaian kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah yang kompleks dan tidak memiliki jawaban tunggal. Misalnya, dalam proyek pembelajaran tentang permasalahan sampah di lingkungan, siswa dinilai berdasarkan kemampuan mereka mengidentifikasi akar masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, mengembangkan berbagai alternatif solusi, serta mengevaluasi keefektifan setiap alternatif. Hasil dari proyek semacam ini memberikan gambaran yang jelas tentang perkembangan kemampuan nalar kritis siswa.
Data dari berbagai penelitian dan evaluasi nasional menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada kemampuan nalar kritis siswa yang belajar dengan Kurikulum Merdeka. Beberapa studi menemukan bahwa siswa yang mengikuti kurikulum ini memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengidentifikasi bias dalam informasi, menghubungkan konsep antar bidang studi, dan menyampaikan argumen dengan bukti yang mendukung. Perbandingan dengan siswa yang masih mengikuti kurikulum sebelumnya juga menunjukkan perbedaan yang jelas dalam pola berpikir dan kemampuan analitis.
Namun, tantangan dalam mengukur keberhasilan masih ada, terutama terkait dengan konsistensi dan standarisasi penilaian di seluruh wilayah. Di beberapa daerah, instrumen penilaian yang digunakan belum sepenuhnya selaras dengan standar nasional, sehingga sulit untuk melakukan perbandingan yang akurat. Selain itu, kemampuan nalar kritis merupakan kompetensi yang berkembang secara bertahap dan dipengaruhi oleh berbagai faktor luar kurikulum, sehingga sulit untuk secara pasti mengaitkan semua perkembangan yang terjadi hanya dengan implementasi Kurikulum Merdeka.
Selain instrumen penilaian formal, umpan balik dari berbagai pihak juga menjadi indikator penting dalam mengukur keberhasilan. Guru melaporkan perubahan positif dalam sikap dan kemampuan siswa, orang tua melihat peningkatan kemampuan anak-anak dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah sehari-hari, dan pihak sekolah mencatat bahwa siswa semakin aktif dan bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan. Dunia kerja juga mulai memberikan tanggapan positif terhadap lulusan yang telah belajar dengan Kurikulum Merdeka, yang dianggap memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik.
Untuk memperbaiki proses pengukuran keberhasilan, diperlukan pengembangan instrumen penilaian yang lebih valid dan reliabel, serta pelatihan bagi guru dalam melakukan penilaian kemampuan nalar kritis secara efektif. Selain itu, perlu dilakukan pemantauan berkelanjutan terhadap perkembangan siswa dari berbagai latar belakang dan wilayah untuk memastikan bahwa keberhasilan yang dicapai merata dan berkelanjutan. Dengan demikian, kita dapat secara akurat mengetahui sejauh mana Kurikulum Merdeka telah berhasil dalam mendidik nalar kritis siswa dan melakukan perbaikan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
###
Penulis: Ailsa Widya Imamatuzzadah