Meningkatkan Kemampuan Berpikir tentang Berpikir Melalui Problem Posing
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Di era revolusi industri empat point nol yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan informasi yang pesat, dunia pendidikan dituntut untuk membekali siswa dengan kecakapan yang mumpuni dalam menghadapi berbagai tantangan. Salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki siswa sejak tingkat pendidikan dasar hingga menengah adalah kemampuan metakognisi, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016. Metakognisi, yang sering disebut sebagai "berpikir tentang berpikir" atau "mengetahui tentang mengetahui", merupakan kemampuan seseorang untuk menyadari dan mengatur proses berpikirnya sendiri. Kemampuan ini sangat penting terutama dalam pembelajaran matematika, karena dapat membantu siswa memahami kapan dan mengapa harus menggunakan strategi tertentu dalam memecahkan masalah, serta mengatur aktivitas kognitif seperti perencanaan, kesadaran dalam memahami tugas, dan pemilihan strategi yang tepat.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh Wiryanto, Neni Mariana, dan Budiyono dari Universitas Negeri Surabaya di sebuah SD negeri di Surabaya menunjukkan bahwa kemampuan metakognisi siswa masih lemah dalam menyelesaikan masalah matematika. Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak guru tidak mengetahui apa itu metakognisi dan bagaimana cara melatihkannya kepada siswa. Kondisi ini sejalan dengan temuan penelitian yang menyatakan bahwa banyak guru tidak mengetahui metode pengajaran dan cara menilai metakognisi siswa sekolah dasar. Padahal, menurut penelitian, metakognisi merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan siswa dalam pemecahan masalah matematika. Melalui metakognisi, siswa dapat menyesuaikan tindakannya dalam proses memecahkan masalah matematika sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna.
Untuk mengatasi permasalahan ini, diperlukan pendekatan pembelajaran yang dapat melatihkan kesadaran berpikir siswa. Salah satu pendekatan yang direkomendasikan oleh National Council of Teachers of Mathematics atau NCTM adalah Problem Posing atau pengajuan soal. Pendekatan Problem Posing adalah pendekatan pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk merumuskan, membentuk, dan mengajukan pertanyaan atau soal dari situasi yang disediakan. Melalui pendekatan ini, siswa diberi kesempatan besar untuk membuat soal sendiri, baik dengan merumuskan soal sederhana dari situasi yang diadakan, merumuskan ulang pertanyaan menjadi sub-sub pertanyaan baru, maupun memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal baru yang sejenis. Pada proses membuat soal inilah kesadaran berpikir siswa untuk memahami masalah akan terlatih. Semakin sering siswa membuat soal sendiri, semakin tinggi tingkat kesadaran berpikir siswa dalam memahami suatu masalah.
Penelitian eksperimen ini menggunakan desain counterbalanced atau desain berimbang yang melibatkan dua kelas VI di sebuah SD negeri di Surabaya dengan total 64 siswa. Desain ini memiliki ciri khusus di mana semua subjek mendapat perlakuan eksperimen sehingga tidak ada kelas kontrol. Setiap kelas mendapatkan pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing dan pembelajaran konvensional pada materi yang berbeda secara bergantian. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan tes kemampuan metakognisi yang telah divalidasi. Sebelum dilakukan analisis, instrumen tes terlebih dahulu diuji validitas isi menggunakan Content Validity Ratio dan reliabilitas menggunakan teknik Kuder-Richardson. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan statistika deskriptif untuk mengetahui persentase kemampuan metakognisi siswa serta statistika inferensia berupa uji-t untuk mengetahui efektivitas pendekatan Problem Posing dibandingkan pembelajaran konvensional.
Hasil penelitian menunjukkan temuan yang sangat menarik. Sebelum penerapan pendekatan Problem Posing atau pada tahap pretest, hanya 14,81% siswa yang memiliki kemampuan metakognisi tinggi. Mayoritas siswa yaitu 74,07% memiliki kemampuan metakognisi sedang, sementara 11,11% siswa memiliki kemampuan metakognisi rendah. Namun, setelah pembelajaran dengan pendekatan Problem Posing atau pada tahap posttest, terjadi peningkatan yang signifikan. Jumlah siswa yang memiliki kemampuan metakognisi tinggi meningkat menjadi 37,04%, sementara siswa dengan kemampuan metakognisi sedang menurun menjadi 55,55%, dan siswa dengan kemampuan metakognisi rendah juga berkurang menjadi 7,40%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa pendekatan Problem Posing efektif dalam melatih kemampuan metakognisi siswa.
Analisis statistik lebih lanjut menggunakan uji-t sampel berpasangan membuktikan bahwa terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara pembelajaran konvensional dan pendekatan Problem Posing. Data penelitian telah lolos uji normalitas dan homogenitas, sehingga analisis dapat dilanjutkan dengan uji-t. Hasil uji-t menunjukkan nilai p-value sebesar 0,000 yang lebih kecil dari α 0,05, yang berarti terdapat perbedaan efektivitas yang signifikan antara kedua metode pembelajaran tersebut. Nilai mean sebesar -2,185 menunjukkan adanya kecenderungan kenaikan efektivitas setelah diterapkan pendekatan Problem Posing dengan rata-rata kenaikan sebesar 2,185. Dengan kata lain, pendekatan Problem Posing terbukti lebih efektif dibandingkan pembelajaran konvensional dalam meningkatkan kemampuan metakognisi siswa. Dari 27 siswa yang menjadi subjek penelitian, 23 siswa menilai bahwa pendekatan Problem Posing lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi dunia pendidikan, khususnya pembelajaran matematika di sekolah dasar. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan Problem Posing dapat dijadikan alternatif bagi guru untuk mengembangkan kemampuan metakognisi siswa. Ketika siswa dilatih untuk membuat soal sendiri, mereka harus memahami konsep matematika secara mendalam, menguasai materi dan urutan penyelesaian soal secara detail, serta mengembangkan kesadaran akan proses berpikirnya. Kemampuan metakognisi yang baik akan membantu siswa menjadi pembelajar yang lebih mandiri dan efektif, karena mereka dapat memantau pemahaman mereka sendiri, mengevaluasi strategi yang digunakan, dan menyesuaikan pendekatan mereka ketika menghadapi kesulitan. Bagi guru, penelitian ini menjadi bukti empiris bahwa mengintegrasikan pendekatan Problem Posing dalam pembelajaran matematika bukan hanya meningkatkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga melatih kemampuan metakognisi yang merupakan salah satu kompetensi penting dalam kurikulum nasional dan keterampilan abad kedua puluh satu yang harus dimiliki siswa untuk menghadapi tantangan masa depan.
Sumber: