Meningkatkan Kemampuan Numerasi Siswa di Masa Pandemi
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya—Pandemi Covid-19 telah mengubah wajah pendidikan di Indonesia secara drastis. Pembelajaran yang biasanya berlangsung dengan tatap muka di ruang kelas harus beralih ke sistem pembelajaran jarak jauh secara daring. Perubahan mendadak ini tidak hanya menimbulkan tantangan teknis dalam penggunaan teknologi, tetapi juga memunculkan permasalahan serius dalam pembelajaran, terutama untuk mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman mendalam seperti matematika dan numerasi. Bagi siswa dengan keterbatasan sarana, situasi ini menjadi semakin berat karena mereka tidak memiliki akses yang memadai untuk mengikuti pembelajaran daring dengan baik.
Penelitian yang dilakukan oleh Fifi Anandari Shofiaji dan Neni Mariana dari Universitas Negeri Surabaya mengungkap realitas pembelajaran di masa pandemi, khususnya terkait perkembangan kemampuan numerasi siswa yang memiliki keterbatasan sarana. Penelitian transformatif ini berangkat dari pengalaman peneliti saat mengikuti program Kampus Mengajar Perintis atau KMP, sebuah program yang dirancang Kementerian Pendidikan untuk membantu sekolah-sekolah berakreditasi maksimal B dalam melaksanakan pembelajaran jarak jauh, peningkatan literasi dan numerasi, serta adaptasi teknologi. Melalui program ini, peneliti menemukan seorang siswa kelas enam yang memiliki kemampuan numerasi rendah dan keterbatasan sarana, sehingga guru harus melakukan kunjungan rumah atau home visit untuk membantunya.
Kondisi siswa tersebut cukup memprihatinkan. Siswa yang diberi nama samaran Nato ini kesulitan memahami soal-soal numerasi yang disajikan dalam bentuk cerita. Kemampuannya dalam melakukan operasi hitung juga sangat terbatas, hanya mampu menjumlahkan dan mengurangkan bilangan satu digit. Ketika menghadapi penjumlahan atau pengurangan dua digit seperti sepuluh tambah sebelas atau lima belas kurang sebelas, Nato mengalami kesulitan besar. Masalah ini diperparah dengan keterbatasan sarana yang dimilikinya untuk mengikuti pembelajaran daring, sehingga ia semakin tertinggal dari teman-temannya yang memiliki akses pembelajaran lebih baik.
Dalam menghadapi situasi pembelajaran jarak jauh, guru kelas menggunakan aplikasi WhatsApp sebagai media utama karena kemudahannya dalam pengoperasian dan tidak membutuhkan kuota internet yang besar. Guru menyampaikan materi numerasi melalui gambar dan pesan suara atau voice note untuk menjelaskan langkah-langkah pembelajaran. Pendekatan ini dipilih setelah guru mencoba menggunakan platform video conference seperti Zoom, namun banyak siswa dan orang tua mengeluhkan konsumsi kuota internet yang terlalu besar. WhatsApp menjadi solusi praktis yang dapat diakses oleh sebagian besar siswa, meskipun tetap tidak menjangkau siswa-siswa dengan keterbatasan sarana seperti Nato yang memerlukan perhatian khusus.
Peran mahasiswa KMP menjadi sangat penting dalam membantu siswa seperti Nato. Peneliti melakukan kunjungan rumah tiga kali seminggu untuk memberikan pendampingan khusus dalam pembelajaran numerasi. Dalam proses pendampingan ini, peneliti menemukan bahwa Nato menggunakan cara berhitung yang tidak efektif, yaitu dengan melipat jari dan menghitung mundur dari bilangan besar ke bilangan kecil, yang seringkali membuatnya bingung dan salah dalam mengurutkan bilangan. Selain itu, Nato juga kesulitan memahami maksud dari soal cerita karena merasa kalimatnya terlalu panjang. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti mengajarkan metode penjumlahan dan pengurangan bersusun dengan menanamkan konsep nilai tempat, yakni memisahkan puluhan dan satuan sehingga perhitungan menjadi lebih sistematis dan mudah dipahami.
Hasil dari pendampingan intensif ini menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Setelah beberapa kali pertemuan dan latihan menggunakan metode nilai tempat dalam operasi hitung bersusun, Nato mulai menunjukkan peningkatan kemampuan dalam memahami dan menganalisis soal numerasi. Ia tidak lagi kebingungan dalam mengurutkan bilangan dan mampu melakukan penjumlahan serta pengurangan dua digit dengan lebih tepat. Kemampuan Nato dalam menganalisis informasi dari soal cerita juga meningkat setelah peneliti membantunya memahami setiap kalimat dengan bahasa yang lebih sederhana dan dekat dengan pengalaman kehidupannya sehari-hari. Numerasi bukan sekadar kemampuan menghitung, tetapi juga kemampuan mengaplikasikan konsep bilangan dalam memecahkan permasalahan kehidupan nyata.
Program Kampus Mengajar Perintis terbukti memberikan manfaat besar, tidak hanya bagi siswa tetapi juga bagi guru dan sekolah. Guru merasa terbantu dengan kehadiran mahasiswa yang dapat membantu melakukan pendampingan intensif kepada siswa-siswa yang memerlukan perhatian khusus. Program ini juga membantu meningkatkan adaptasi teknologi bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran daring. Penelitian ini memberikan harapan bahwa dengan metode yang tepat, pendampingan yang intensif, dan kerja sama antara guru, mahasiswa, dan orang tua, siswa dengan keterbatasan sarana tetap dapat meningkatkan kemampuan numerasinya meskipun dalam kondisi pandemi. WhatsApp sebagai media pembelajaran terbukti efektif sebagai alternatif yang mudah diakses, sementara kunjungan rumah menjadi strategi penting untuk memastikan tidak ada siswa yang tertinggal dalam pembelajaran.
Sumber: