Menonton atau Belajar? Risiko Tersembunyi YouTube bagi Pendidikan SD dan Agenda SDGs
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya —Penggunaan YouTube sebagai media pembelajaran di sekolah dasar kini menjadi perdebatan serius di tengah upaya mencapai target SDGs, khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDGs 13 mengenai aksi terhadap perubahan iklim. Di satu sisi, YouTube menawarkan akses visual yang kaya, memungkinkan siswa memahami fenomena ilmiah seperti perubahan cuaca, energi bersih, hingga pemanasan global melalui tayangan yang menarik dan mudah dipahami. Namun, di sisi lain, platform ini membawa risiko besar berupa distraksi, paparan iklan yang tidak sesuai, serta potensi misinformasi yang berkembang tanpa filter kritis. Guru menghadapi dilema: bagaimana memaksimalkan potensi positif YouTube tanpa menyeret siswa pada ketergantungan layar yang berlebihan. Situasi ini menuntut evaluasi mendalam mengenai batas sehat penggunaan teknologi digital di ruang kelas.
Dalam praktiknya, guru sekolah dasar sering kali menggunakan video YouTube untuk membangun konteks pembelajaran, terutama pada tema SDGs seperti lingkungan, energi, dan pola konsumsi berkelanjutan. Video animasi tentang daur air atau perubahan iklim membantu siswa memahami konsep abstrak dengan cara yang lebih konkrit. Namun, efektivitas video sebagai media pembelajaran tidak otomatis terjadi. Banyak video yang secara visual menarik tetapi miskin akurasi data atau sarat simplifikasi berlebihan. Ketika video semacam ini digunakan tanpa pendampingan, siswa cenderung mengingat tampilan visual dibanding konsep ilmiahnya. Tanpa literasi digital yang memadai, penggunaan YouTube justru berpotensi memperlebar kesenjangan pengetahuan antara “apa yang menarik ditonton” dan “apa yang seharusnya dipahami.”
Kritik utama terhadap penggunaan YouTube di sekolah dasar adalah minimnya pengawasan terhadap kualitas konten. Tidak semua guru memiliki waktu untuk melakukan kurasi video secara teliti—mulai dari memeriksa akurasi informasi, sumber data, hingga potensi bias yang disisipkan dalam narasi visual. Kondisi ini membuka peluang bagi konten manipulatif atau misinformasi masuk ke ruang kelas tanpa disadari. Lebih jauh lagi, algoritma YouTube tidak dirancang untuk pembelajaran, tetapi untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Hal ini menimbulkan risiko bahwa setelah video berakhir, rekomendasi otomatis akan membawa siswa ke konten non-edukatif, bahkan yang sama sekali tidak relevan dengan SDGs maupun materi sekolah dasar.
Selain itu, penggunaan YouTube yang tidak terkontrol juga berhubungan dengan isu kesehatan dan kesejahteraan siswa, yang merupakan bagian dari SDGs 3. Waktu layar yang berlebihan dapat memengaruhi fokus belajar, kualitas tidur, dan kesehatan mata pada anak usia sekolah dasar. Ketergantungan pada media audio-visual juga dapat mengurangi kemampuan literasi tekstual dan numerasi yang seharusnya diperkuat sejak dini. Guru yang terlalu mengandalkan YouTube berisiko menciptakan pembelajaran pasif: siswa hanya menonton tanpa dilatih untuk bertanya, menalar, atau mengolah informasi. Padahal, tujuan utama literasi digital dalam SDGs adalah menciptakan pembelajar yang kritis, bukan pengguna pasif yang sekadar mengikuti alur video.
Sebagai solusi, sekolah perlu menetapkan standar kurasi konten dan pedoman penggunaan YouTube yang lebih ketat dan berbasis riset pedagogis. Guru harus diberikan pelatihan literasi digital mendalam agar mampu mengevaluasi konten secara kritis sebelum digunakan. Selain itu, pembelajaran berbasis YouTube harus selalu diikuti diskusi analitis, tanya jawab, atau aktivitas reflektif yang menghubungkan tayangan dengan isu lingkungan atau sosial sesuai SDGs. Pendekatan ini mengubah siswa dari penonton menjadi pemikir, dari pengguna menjadi pengkritik, dan dari konsumen informasi menjadi pencipta perubahan. Dengan pemanfaatan yang tepat, YouTube dapat menjadi jembatan menuju pembelajaran berkelanjutan; tetapi tanpa kontrol yang kuat, ia justru menjadi hambatan bagi tercapainya pendidikan berkualitas di sekolah dasar.
###
Penulis: Putri Arina Hidayati
Dokumentasi: Google_Eraspace