Mentalitas Menghafal: Musuh Utama Siswa SD dalam Menghadapi TKA 2025
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Hasil TKA 2025 yang baru saja dipublikasikan mengungkap kegagalan sistemik siswa SD dalam menjawab soal-soal penalaran tingkat tinggi, menguatkan temuan PISA bahwa sistem pendidikan Indonesia masih terjebak dalam mentalitas menghafal. Meskipun jargon "berpikir kritis" telah lama didengungkan dalam setiap pergantian kurikulum, data menunjukkan bahwa siswa cenderung panik dan gagal saat dihadapkan pada skenario masalah yang belum pernah mereka temui di buku teks. Alarm ini sangat serius karena menunjukkan bahwa pola pikir siswa kita belum bertransformasi ke arah kebutuhan industri masa depan yang membutuhkan kemampuan analisis dan pemecahan masalah.
Peneliti pascasarjana pendidikan menemukan bahwa proses pembelajaran di tingkat SD masih didominasi oleh latihan soal objektif yang hanya menguji ingatan jangka pendek siswa terhadap fakta-fakta mati. Akibatnya, ketika TKA 2025 menyajikan soal-soal berbasis literasi saintifik yang setara dengan standar PISA, skor siswa jatuh secara drastis pada bagian analisis sebab-akibat. Masalah ini berakar pada cara evaluasi di sekolah yang masih lebih menghargai jawaban benar yang seragam daripada proses berpikir yang divergen dan logis. Sudut pandang ini menegaskan bahwa untuk memperbaiki mutu, kita harus merombak total cara kita menguji dan memberi nilai pada siswa.
Budaya menghafal ini menciptakan "siswa robot" yang sangat mahir mengikuti instruksi namun lumpuh dalam mengambil inisiatif intelektual. Dalam ujian TKA 2025, ditemukan pola di mana siswa kelas 6 SD cenderung mengosongkan jawaban pada soal esai yang menuntut penjelasan argumen. Hal ini mengonfirmasi temuan PISA bahwa literasi bukan sekadar mengeja huruf, melainkan kemampuan mengolah gagasan. Jika pendidikan dasar terus dipelihara sebagai tempat penimbunan fakta, maka kita sebenarnya sedang mendidik generasi yang akan mudah digantikan oleh kecerdasan buatan di masa depan.
Dampak dari mentalitas menghafal ini juga terlihat pada rendahnya kreativitas siswa dalam menyelesaikan masalah numerasi yang memerlukan lebih dari satu langkah pengerjaan. Siswa terbiasa diberikan rumus jadi, sehingga ketika mereka harus menemukan pola sendiri, mereka kehilangan daya juang intelektualnya. Hasil TKA 2025 menunjukkan bahwa skor matematika siswa Indonesia anjlok bukan karena ketidaktahuan angka, tetapi karena ketidakmampuan menghubungkan konsep. Penjagaan mutu pendidikan dasar harus segera digeser dari kuantitas hafalan menuju kualitas pemahaman konsep yang mendalam dan aplikatif.
Para pendidik di jenjang pascasarjana menyarankan agar penilaian di sekolah lebih banyak menggunakan format terbuka yang memicu diskusi dan debat antar-siswa. Pendidikan harus difokuskan pada pengembangan kemampuan "belajar bagaimana cara belajar" (learning how to learn), sehingga siswa siap menghadapi tantangan apa pun di luar buku teks. Fakta dari TKA 2025 harus menjadi cambuk bagi guru untuk berhenti memberikan "makanan yang sudah dikunyah" kepada siswa. Biarkan siswa bergulat dengan kesulitan, karena dari situlah kemampuan nalar dan logika mereka akan tumbuh dengan kuat.
Selain itu, dukungan dari orang tua juga diperlukan untuk tidak lagi menuntut nilai sempurna yang hanya berdasarkan hafalan belaka. Seringkali tekanan orang tua membuat guru mengambil jalan pintas dengan memberikan bocoran pola soal daripada mengajarkan konsep yang benar. Hasil PISA yang buruk adalah bukti bahwa nilai rapor yang tinggi tidak berkorelasi dengan kualitas kognitif yang sesungguhnya di mata dunia. Kita perlu membangun kesadaran kolektif bahwa proses berpikir jauh lebih berharga daripada angka di atas kertas ujian yang bersifat sementara.
Jika kita ingin hasil PISA membaik secara signifikan, maka hasil TKA 2025 harus menjadi titik balik untuk menghapuskan budaya menghafal dari akar pendidikan dasar kita. Tanpa pergeseran paradigma dari menghafal ke bernalar, pendidikan Indonesia akan terus menjadi penonton di belakang kemajuan dunia. Keberhasilan pendidikan dasar di masa depan tidak akan diukur dari seberapa banyak fakta yang diingat siswa, melainkan dari seberapa tajam mereka mampu menganalisis dunia di sekitar mereka dengan logika yang sehat.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah