Menuju Reformasi Total: Evaluasi Hasil TKA 2025 sebagai Fondasi Pendidikan Dasar
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Publikasi hasil TKA 2025 pada awal tahun 2026 ini harus menjadi momentum emas bagi reformasi total pendidikan dasar Indonesia, setelah datanya secara resmi memvalidasi krisis mutu yang dipotret oleh PISA. Penurunan performa siswa SD dalam aspek literasi dan numerasi ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa perbaikan tambal sulam selama ini tidak lagi mencukupi untuk mengejar ketertinggalan pendidikan kita di kancah global. Alarm serius ini mengimbau seluruh elemen bangsa, mulai dari birokrat hingga akademisi, untuk berhenti melakukan pembelaan diri dan mulai melakukan aksi nyata yang sistemik serta berbasis pada data lapangan yang akurat.
Analisis komprehensif terhadap TKA 2025 menyarankan perlunya penyederhanaan kurikulum secara drastis dengan fokus hanya pada tiga pilar utama: literasi bahasa, numerasi logika, dan penguatan karakter pada jenjang SD. Data membuktikan bahwa kepadatan materi pelajaran justru menghambat kedalaman pemahaman siswa, sebuah pola yang dikonfirmasi oleh hasil PISA yang buruk secara berulang. Sudut pandang pascasarjana menekankan pentingnya standarisasi mutu guru secara nasional tanpa pengecualian, serta sistem evaluasi yang lebih menekankan pada kemajuan proses individu siswa daripada sekadar angka kelulusan administratif yang sering kali menipu.
Fakta bahwa pendidikan dasar kita sedang dalam kondisi "gawat darurat" harus diakui secara jujur sebagai langkah pertama menuju perbaikan yang berkelanjutan. Tanpa pengakuan terhadap kegagalan, kita akan terus terjebak dalam siklus pergantian kurikulum yang hanya menyentuh kulit luar namun tidak memperbaiki kualitas pembelajaran di dalam kelas. Reformasi total ini menuntut keberanian untuk memangkas birokrasi pendidikan yang gemuk dan mengalihkan sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraan serta kompetensi guru secara langsung. Penjagaan mutu pendidikan dasar harus menjadi proyek nasional yang melampaui kepentingan politik jangka pendek.
Pendidikan dasar adalah fondasi dari seluruh bangunan masa depan bangsa, sehingga jika fondasi ini rapuh, maka jenjang pendidikan menengah dan tinggi tidak akan pernah bisa mencapai kualitas yang diharapkan. Hasil TKA 2025 menunjukkan bahwa banyak lulusan SD yang belum siap secara mental dan kognitif untuk menghadapi tantangan di SMP. Hal ini menciptakan beban ganda bagi guru di jenjang berikutnya dan menurunkan daya saing lulusan kita di pasar kerja internasional di kemudian hari. Oleh karena itu, investasi pada jenjang SD tidak boleh lagi dipandang sebelah mata; ini adalah titik krusial di mana masa depan Indonesia ditentukan.
Sistem penjaminan mutu juga harus melibatkan audit independen secara berkala yang tidak hanya menilai aspek fisik sekolah, tetapi juga kualitas interaksi pedagogis di kelas. Kampus-kampus pendidikan melalui program pascasarjana harus dilibatkan sebagai mitra strategis sekolah untuk memberikan solusi berbasis riset bagi masalah-masalah pembelajaran di lapangan. Data TKA 2025 harus dibedah hingga tingkat sekolah untuk memberikan rekomendasi perbaikan yang sangat spesifik dan personal bagi setiap institusi pendidikan dasar di Indonesia. Hanya dengan pendekatan yang berbasis data (data-driven policy), kita dapat melakukan perbaikan yang efektif.
Selain itu, pembangunan budaya prestasi yang sehat harus ditumbuhkan kembali di sekolah-sekolah dasar tanpa mengorbankan kesejahteraan mental anak. Kita harus berani menetapkan standar mutu yang tinggi dan memberikan dukungan maksimal kepada sekolah yang masih tertinggal untuk mencapai standar tersebut. Hasil PISA yang buruk adalah tantangan yang harus dijawab dengan kerja keras dan kejujuran intelektual, bukan dengan pemakluman atas kekurangan yang ada. Pendidikan dasar Indonesia membutuhkan "darah baru" berupa inovasi pengajaran yang mampu membangkitkan kembali semangat belajar siswa di tengah gempuran distraksi zaman.
Hasil TKA 2025 dan PISA adalah panggilan sejarah bagi Indonesia untuk benar-benar menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama pembangunan bangsa yang tidak bisa ditawar lagi. Kita memerlukan komitmen politik dan anggaran yang fokus pada kualitas guru dan efektivitas pembelajaran di tingkat sekolah dasar sebagai langkah paling fundamental. Hanya dengan reformasi total yang konsisten dan berani, kita dapat mengubah alarm serius ini menjadi harapan baru bagi masa depan cerdas anak-anak Indonesia yang siap memimpin di panggung dunia.
###
Penulis: Nur Santika Rokhmah