Menyelisik Tantangan Numersi pada AKM dari Kaca Mata Kognitif
Selama ini kita sering berasumsi bahwa peserta didik
yang berkemampuan matematis tinggi pasti mampu menyelesaikan soal-soal numerasi
dengan mudah. Mereka dianggap cepat memahami konsep, teliti dalam berhitung,
dan mampu menyelesaikan masalah yang menantang. Namun, penelitian oleh Alliffia
Ganis Nurarini dan Neni Mariana (2024) menunjukkan kenyataan yang berbeda.
Bahkan siswa yang dikategorikan berkemampuan matematis tinggi pun masih dapat
mengalami berbagai kesulitan ketika berhadapan dengan soal numerasi bilangan
pada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) tingkat sekolah dasar.
Penelitian ini mengajak kita melihat lebih dekat bagaimana
peserta didik kelas V mencoba memecahkan soal-soal numerasi AKM yang menuntut
kemampuan membaca konteks, memahami informasi, menalar, dan membuat keputusan
berbasis data. AKM tidak hanya menguji kemampuan menghitung, tetapi juga
kemampuan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan representasi, pemodelan,
serta penalaran logis. Dari sinilah muncul celah: kemampuan berhitung yang kuat
tidak otomatis membuat siswa mampu memecahkan soal kontekstual dengan baik.
Melalui analisis mendalam terhadap proses berpikir siswa,
penelitian ini menemukan sejumlah kesulitan utama. Salah satunya adalah
kecenderungan siswa langsung fokus pada angka tanpa membaca konteks situasi
dengan teliti. Mereka sering melewatkan informasi penting hanya karena
terburu-buru ingin langsung menghitung. Kesalahan lain muncul ketika siswa
keliru menerjemahkan informasi verbal ke dalam bentuk matematis. Soal AKM yang
biasanya berbentuk cerita atau berbasis data membutuhkan kemampuan memahami maksud
soal sebelum melakukan perhitungan. Tanpa itu, langkah yang mereka pilih
menjadi tidak tepat meskipun kemampuan hitung mereka sebenarnya sangat baik.
Penelitian ini juga menemukan bahwa siswa berkemampuan
tinggi tidak selalu mampu memilih strategi yang paling efisien. Mereka sering
mengulang langkah yang panjang, kurang mempertimbangkan hubungan
antar-informasi, atau kesulitan mengidentifikasi apa yang sebenarnya
ditanyakan. Dalam beberapa kasus, siswa menunjukkan kecenderungan menghafal
pola tertentu dan mencoba menerapkannya meskipun konteks soalnya berbeda. Hal
ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka mungkin prosedural, belum sepenuhnya
konseptual.
Temuan ini penting karena menegaskan bahwa numerasi bukan
sekadar matematika. Numerasi adalah kemampuan menggunakan pengetahuan
matematika dalam kehidupan nyata. Untuk itu, siswa memerlukan lebih dari
sekadar ketelitian dan kemampuan berhitung. Mereka perlu dilatih membaca
situasi, memahami konteks, mengevaluasi informasi, dan mengambil keputusan
berdasarkan data.
Penelitian oleh Alliffia Ganis Nurarini dan Neni Mariana
memberikan pesan kuat bagi guru sekolah dasar: bahwa pembelajaran matematika
tidak boleh berhenti pada latihan soal yang bersifat rutin. Guru perlu
memperkaya pembelajaran dengan masalah kontekstual, diskusi pemecahan masalah,
dan aktivitas yang mendorong siswa menjelaskan cara berpikir mereka. Siswa
perlu mengalami proses memecahkan masalah yang tidak hanya menguji kemampuan
hitung, tetapi juga kemampuan menganalisis, memilih strategi, dan menafsirkan
hasil.
Lebih jauh lagi, penelitian ini membuka pemahaman bahwa
peserta didik berkemampuan tinggi pun harus terus difasilitasi agar berkembang
secara komprehensif. Kemampuan mereka tidak boleh dianggap sudah “cukup”,
tetapi tetap perlu dibimbing untuk memperkuat penalaran, strategi, dan
keterampilan komunikasi matematis mereka. Dengan cara inilah pembelajaran
matematika dapat benar-benar mempersiapkan mereka menghadapi tantangan asesmen
maupun tantangan kehidupan sesungguhnya.
Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa
setiap anak—baik yang berkemampuan matematika tinggi maupun sedang—memiliki
tantangan kognitif masing-masing. Tugas pendidik adalah memahami proses
berpikir mereka dan menyediakan pembelajaran yang mampu menuntun, bukan hanya
menilai. Dari sinilah numerasi dapat tumbuh sebagai kompetensi yang utuh: tidak
hanya kuat di angka, tetapi juga kuat dalam makna.
Penulis: Neni Mariana
Sumber Gambar: images.google.com
Sumber Pustaka:
|
Nurarini, A. G., & Mariana, N. (2024).
Analisis kesulitan peserta didik berkemampuan matematis tinggi dalam
menyelesaikan soal numerasi bilangan pada asesmen kompetensi minimum (AKM)
kelas V sekolah dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar,
12(7). |