Metaphorical thinking yang digunakan guru SD mengajar matematika
Matematika
sering dianggap pelajaran yang menakutkan bagi siswa SD. Angka, rumus, dan
simbol yang abstrak membuat anak-anak kesulitan memahami konsep yang diajarkan.
Tapi bagaimana jika guru mengajarkan pengurangan dengan cerita makan permen?
Atau menjelaskan garis bilangan positif dan negatif dengan gerakan tangan?
Inilah yang disebut metaphorical thinking, sebuah pendekatan yang ternyata
sangat efektif untuk pembelajaran matematika SD.
Penelitian
yang dilakukan oleh Sofiyah Dias Rahmasari Putri dan Neni Mariana dari
Universitas Negeri Surabaya mengungkap bagaimana guru-guru di SDN Rungkut
Menanggal Surabaya menggunakan bahasa kiasan dan gerakan tubuh untuk membuat
matematika lebih mudah dipahami siswa kelas empat. Hasilnya? Siswa tidak hanya
lebih paham, tapi juga lebih senang belajar matematika.
Metaphorical
thinking adalah aktivitas mental yang memanfaatkan metafora atau kiasan untuk
menghubungkan konsep matematika yang abstrak dengan pengalaman konkret dalam
kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar gaya bahasa, tetapi cara berpikir yang
membantu siswa memahami konsep matematika melalui hal-hal yang sudah mereka
kenal. Menurut George Lakoff dan Mark Johnson dalam buku Metaphors We Live By,
pemikiran manusia disusun dalam struktur metaforis yang memungkinkan kita
memahami satu hal melalui hal lain.
Pak AN,
salah satu guru yang diteliti, punya gaya mengajar yang unik. Beliau
menggunakan bahasa yang lucu dan dekat dengan keseharian anak. Contohnya, saat
mengajarkan operasi hitung campuran, beliau tidak langsung memberikan soal
angka. Beliau bercerita, "Ayo kira-kira seumpama Kevin memiliki katak
sejumlah tujuh puluh, abis itu digoreng lima." Anak-anak langsung tertawa
dan antusias mengikuti pembelajaran. Mereka tidak merasa sedang belajar
matematika yang serius, tapi merasa seperti bermain dengan teman.
Dalam
menjelaskan konsep pengurangan, pak AN menggunakan contoh permen.
"Sekarang kamu punya permen sepuluh, sepuluh tadi sudah kamu makan lima
tinggal berapa sisanya? Terus sisanya itu kamu bagi lagi ke adikmu satu."
Dengan cara ini, konsep abstrak sepuluh dikurangi lima dikurangi satu menjadi
sesuatu yang bisa dibayangkan dan dialami anak. Konsep "makan" yang
seharusnya berarti memasukkan makanan ke mulut, digunakan sebagai kiasan untuk
"pengurangan."
Bu ID
menggunakan strategi serupa dengan media uang mainan. Beliau bertanya kepada
siswa, "Ayo kalau kamu misal beli donat di kantin harganya lima ribu terus
dikasih uang sepuluh ribu sama bu Ida, berarti kembaliannya berapa?"
Dengan menggunakan konteks yang familiar seperti jajan di kantin, anak-anak
langsung bisa menjawab dengan cepat. Bu ID juga sering mencampurkan bahasa
Indonesia dengan bahasa Jawa seperti "Ayo sopo seng gelem duwek?"
untuk membuat suasana lebih hidup.
Yang
menarik, bukan hanya bahasa verbal yang digunakan. Pak AR menggunakan gerakan
tubuh atau gesture untuk menjelaskan garis bilangan. Saat menjelaskan bilangan
positif, beliau mengarahkan tangan ke kanan. Saat menjelaskan bilangan negatif,
tangan mengarah ke kiri. Gerakan ini bukan asal pilih. Dalam budaya timur dan
ajaran agama, kanan sering dikaitkan dengan kebaikan dan positif, sedangkan
kiri dikaitkan dengan sesuatu yang negatif. Jadi gesture ini punya makna yang
sudah tertanam dalam kesadaran siswa.
Selain
bahasa dan gesture, para guru juga memanfaatkan media pembelajaran yang
konkret. Pak AN menggunakan papan pembagian, permen, dan gelas plastik untuk
menjelaskan konsep pembagian. Bu ID menggunakan uang mainan dengan berbagai
pecahan untuk mengajarkan penjumlahan. Bu TW membuat media sederhana dengan
menempelkan angka-angka di papan untuk permainan perkalian. Meskipun sederhana,
media-media ini sangat membantu karena memberikan pengalaman visual dan taktil
kepada siswa.
Pembelajaran
di luar kelas juga menjadi bagian dari pendekatan ini. Pak AN mengajak siswa
berjalan-jalan mengelilingi sekolah untuk menghitung jumlah tanaman. SDN
Rungkut Menanggal adalah sekolah adiwiyata sehingga lingkungan sekolah dipenuhi
tanaman yang bisa dijadikan media pembelajaran. Dengan cara ini, matematika
tidak lagi terasa sebagai pelajaran di kelas yang membosankan, tapi menjadi
aktivitas yang menyenangkan.
Dampaknya
terhadap pemahaman siswa sangat signifikan. Berdasarkan wawancara dengan siswa,
mereka mengaku lebih mudah memahami materi saat guru menggunakan bahasa yang
lucu dan contoh-contoh konkret. Zivara dan Dimas dari kelas pak AN mengatakan
bahwa gaya pak AN yang lucu membuat materi lebih mudah diingat. Alyaa dan
Rinjani dari kelas bu ID mengatakan mereka paham dengan penjelasan yang
menggunakan media uang. Keysha dan Amirah dari kelas bu TW juga menyatakan
mereka cukup paham meskipun materi sulit.
Hasil
belajar siswa juga membuktikan efektivitas pendekatan ini. Di kelas pak AN,
rata-rata siswa mendapat nilai delapan puluh lima hingga sembilan puluh lima,
bahkan ada yang mencapai seratus. Di kelas bu ID, rata-rata siswa mendapat
nilai di atas delapan puluh. Di kelas bu TW dan pak AR, hasil belajar juga
menunjukkan angka yang memuaskan dengan sebagian besar siswa mencapai nilai di
atas KKM. Pak AN mengatakan sekitar delapan puluh lima hingga delapan puluh
tujuh persen siswanya memahami materi yang disampaikan.
Mengapa
pendekatan ini efektif? Menurut teori perkembangan Jean Piaget, anak usia enam
hingga dua belas tahun berada pada tahap operasional konkret yang membutuhkan
benda konkret untuk memahami konsep abstrak. Anak-anak pada usia ini belum bisa
sepenuhnya berpikir abstrak, sehingga mereka memerlukan jembatan berupa
pengalaman konkret untuk memahami konsep matematika. Metaphorical thinking
menjadi jembatan ini.
Lakoff
dan Nunez menjelaskan bahwa proses pemahaman konsep abstrak melalui pengalaman
konkret adalah esensi dari metafora. Konsep abstrak seperti
"pengurangan" dipahami melalui konsep konkret seperti "makan
permen" atau "memberikan kepada teman." Otak manusia bekerja
dengan cara menghubungkan pengalaman baru dengan pengetahuan yang sudah ada.
Ketika guru menggunakan konteks yang familiar, otak siswa lebih mudah membuat
koneksi dan memahami konsep baru.
Para guru
yang diteliti secara sadar atau tidak sadar telah menerapkan prinsip-prinsip
ini. Mereka tidak menggunakan bahasa matematis yang formal seperti
"dikurangi," "penjumlahan," atau "bilangan bulat
negatif" secara kaku. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari yang dekat
dengan dunia anak. Bu ID mengatakan, "Kalau pakai bahasa matematis yang
dikurangi bingung, tapi kalau kamu punya sepuluh terus sudah kamu makan lima
tinggal berapa sisanya, langsung ngerti."
Penting
dicatat bahwa para guru tetap memperhatikan bahasa baku dan tidak sepenuhnya
menggunakan bahasa gaul. Pak AR menjelaskan, "Saya menggunakan bahasa yang
tidak selalu baku sekali tapi tetap dalam etika berbahasa yang benar."
Jadi ada keseimbangan antara menggunakan bahasa yang mudah dipahami dengan
tetap menjaga kaidah bahasa yang baik.
Namun
tidak semua siswa bisa langsung memahami dengan sempurna. Bu TW mengakui bahwa
tidak bisa mengatakan seratus persen siswa paham, masih ada yang perlu
penjelasan ulang. Pak AR juga menyebutkan masih ada tiga hingga lima persen
siswa yang perlu bimbingan khusus. Ini wajar karena setiap anak memiliki
kecepatan belajar yang berbeda.
Penelitian
ini memberikan pelajaran berharga bagi dunia pendidikan. Pertama, cara guru
menyampaikan materi sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa. Bukan hanya
apa yang diajarkan, tetapi bagaimana cara mengajarkannya. Kedua, mengaitkan
materi dengan kehidupan sehari-hari membuat pembelajaran lebih bermakna.
Ketiga, penggunaan media konkret dan pembelajaran di luar kelas membuat
matematika lebih menyenangkan.
Untuk
para guru, penelitian ini menganjurkan agar terus mengembangkan pendekatan
metaphorical thinking dalam pembelajaran matematika. Kreativitas guru dalam
menciptakan metafora dan gesture yang sesuai dengan konteks siswa sangat
penting. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan untuk menganalisis metaphorical
thinking pada materi dan jenjang kelas yang berbeda agar temuan ini bisa lebih
komprehensif.
Matematika
bukan pelajaran yang menakutkan. Yang menakutkan adalah cara mengajarkannya
yang tidak sesuai dengan dunia anak. Ketika guru bisa menjembatani dunia
abstrak matematika dengan dunia konkret anak-anak, matematika berubah dari
monster menjadi teman bermain. Seperti kata pak AN, "Kalau menggunakan
bahasa anak-anak yang sekiranya mereka menganggap kita temannya, dengan
bercanda, dengan tingkah yang lucu, dengan soal-soal yang lucu, akhirnya
anak-anak senang."
Jadi lain kali ketika Anda melihat guru bercerita tentang menggoreng katak atau membagi permen, jangan heran. Itu bukan guru yang tidak serius mengajar, tetapi guru yang memahami cara terbaik membuat anak-anak mencintai matematika.
###
Penulis: Neni Mariana
Sumber Gambar: images.google.com
Sumber
Pustaka:
Sofiyah
Dias Rahmasari Putri & Neni Mariana (2023), "Analisis Metaphorichal
Thinking yang Digunakan Guru dalam Pembelajaran Matematika SD pada Operasi
Bilangan Bulat", JPGSD Volume 11 Nomor 6, Universitas Negeri Surabaya.