Mimpi Literasi PISA yang Terbentur Dinding Kaku Pembelajaran Prosedural di Kelas
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Upaya meningkatkan skor Programme for International Student Assessment atau PISA di Indonesia masih menghadapi tantangan fundamental pada level implementasi pedagogis di ruang kelas. Asesmen global ini menuntut kemampuan siswa dalam bernalar serta menerapkan konsep matematika pada berbagai situasi kehidupan nyata yang kompleks. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses transformasi pengetahuan masih terjebak dalam pola-pola mekanis yang mengabaikan kedalaman konseptual. Dinding kaku pembelajaran prosedural yang hanya mementingkan langkah demi langkah penyelesaian rumus menjadi penghalang utama bagi berkembangnya daya kritis siswa. Kurikulum yang sarat konten sering kali memaksa pengajar untuk mengejar target materi tanpa sempat menyentuh aspek literasi numerasi yang hakiki. Fenomena ini menciptakan kesenjangan yang lebar antara ambisi pemerintah di tingkat makro dan realitas teknis di tingkat mikro sekolah. Tanpa adanya pergeseran paradigma dari sekadar menghafal menjadi menalar, mimpi untuk mencapai standar literasi internasional akan tetap menjadi angan yang sulit terjangkau.
Pembelajaran matematika di sekolah dasar hingga menengah cenderung didominasi oleh metode rutin yang memprioritaskan hasil akhir dibandingkan proses berpikir. Siswa dilatih untuk menjadi operator kalkulasi yang mahir dalam memanipulasi angka namun gagap saat dihadapkan pada soal cerita yang menuntut interpretasi mendalam. Padahal, ruh dari literasi matematika dalam bingkai PISA adalah kemampuan untuk merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks secara mandiri. Guru sering kali merasa lebih aman menggunakan pendekatan konvensional karena keterbatasan waktu dan tuntutan ujian yang masih bersifat administratif. Hal ini mengakibatkan potensi kognitif siswa tidak terasah untuk menghadapi masalah-masalah non-rutin yang memerlukan kreativitas dalam pemecahan masalah. Kaku dan monotonnya interaksi di kelas membuat matematika dianggap sebagai kumpulan aturan mati yang terpisah dari realitas sosial. Diperlukan rekonstruksi metode ajar yang lebih adaptif agar setiap individu mampu melihat matematika sebagai alat analisis yang tajam dalam kehidupan.
Kesenjangan ini semakin diperparah dengan bahan ajar yang belum sepenuhnya mengintegrasikan konteks lokal yang relevan dengan skema penilaian internasional. Soal-soal kontekstual dalam PISA sering kali dianggap asing oleh siswa karena mereka tidak pernah terpapar pada situasi yang menuntut pengambilan keputusan berbasis data di kelas. Pembelajaran rutin yang hanya berfokus pada buku teks tanpa adanya eksplorasi lingkungan sekitar membuat siswa kehilangan kepekaan numerasi. Meskipun kebijakan kurikulum telah diarahkan pada penguatan kompetensi, praktik di balik pintu kelas sering kali tetap kembali pada zona nyaman lama. Ketidaksiapan infrastruktur berpikir ini menyebabkan performa siswa Indonesia dalam ranah kognitif tingkat tinggi selalu tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Perubahan tidak hanya cukup dilakukan melalui revisi dokumen kurikulum, melainkan harus menyentuh akar praktik instruksional yang terjadi setiap hari. Sinergi antara kebijakan pusat dan kreativitas guru di kelas menjadi kunci utama dalam meruntuhkan dinding penghalang literasi tersebut.
Dukungan institusional terhadap pengembangan profesionalisme guru dalam merancang skenario pembelajaran inovatif merupakan aspek yang tidak dapat ditawar lagi. Pelatihan yang selama ini bersifat seremonial harus diubah menjadi pendampingan intensif yang berfokus pada desain tugas matematika kaya konteks. Guru perlu dibekali dengan kemampuan untuk mendiskonstruksi soal rutin menjadi tantangan intelektual yang memicu diskusi kolaboratif di antara siswa. Jika ruang kelas masih menjadi tempat penyampaian informasi satu arah, maka kemampuan argumentasi matematis siswa tidak akan pernah tumbuh secara optimal. Paradigma asesmen di tingkat sekolah juga harus mulai beradaptasi dengan karakter soal PISA yang menekankan pada validitas logika daripada sekadar ketepatan angka. Transformasi ini memang memerlukan waktu yang panjang dan komitmen yang teguh dari seluruh pemangku kepentingan di bidang pendidikan. Kita harus berani meninggalkan pola lama yang sudah tidak relevan demi menyongsong generasi yang melek literasi dan siap bersaing secara global.
Akhirnya, keberhasilan mencapai standar PISA seharusnya tidak hanya dipandang sebagai upaya mengejar angka di atas kertas, tetapi sebagai langkah memperbaiki kualitas berpikir bangsa. Realitas kelas yang dinamis harus mampu merangkul kompleksitas masalah nyata melalui lensa matematika yang proporsional dan aplikatif. Setiap interaksi di dalam kelas harus mampu menanamkan kesadaran bahwa matematika adalah bahasa universal untuk memahami dunia di sekitar kita. Integrasi antara teori kontekstual dan praktik rutin yang seimbang akan menciptakan ekosistem belajar yang sehat dan merangsang rasa ingin tahu. Tantangan ini merupakan undangan bagi para akademisi dan praktisi pendidikan untuk terus bereksplorasi dalam mencari format terbaik pembelajaran matematika. Dengan meruntuhkan dinding kaku prosedur, kita sedang membuka jalan bagi lahirnya pemecah masalah yang handal di masa depan. Perjalanan menuju literasi matematika yang paripurna dimulai dari keberanian untuk mengubah apa yang selama ini kita anggap normal di dalam kelas.
###
Penulis : Kartika Natasya Kusuma Supardi.