Pelestarian Permainan Tradisional: Guru PJOK Ajak Siswa Riset Cara Main Egrang dan Gasing di YouTube
s2dikdas.fip.unesa.ac.id, Surabaya — Di tengah gempuran game online, permainan tradisional seperti Egrang, Gasing, dan Gobak Sodor mulai asing bagi anak-anak generasi Z. Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) bertekad menghidupkan kembali warisan budaya ini melalui pendekatan teknologi. Karena keterbatasan waktu untuk menjelaskan satu per satu teknik bermain yang benar, guru menugaskan siswa untuk menonton video tutorial dan kompetisi permainan tradisional di YouTube sebelum jam praktik olahraga dimulai.
Guru mengurasi video-video berkualitas yang memperlihatkan teknik menjaga keseimbangan saat naik Egrang bambu atau cara melilitkan tali gasing agar berputar lama. Dengan menonton video di YouTube, siswa mendapatkan gambaran visual yang jelas tentang mekanisme permainan tersebut. Video-video ini seringkali menampilkan trik-trik khusus dari para juara tradisional yang mungkin tidak dikuasai oleh guru olahraga sekalipun. Siswa menontonnya di rumah atau saat jam istirahat menggunakan tablet sekolah, memicu rasa penasaran dan tantangan untuk bisa melakukan hal yang sama.
Saat sesi praktik di lapangan, antusiasme siswa sangat tinggi. Mereka mencoba menerapkan teknik yang mereka lihat di YouTube. Misalnya, siswa saling memberi tahu temannya: "Kata video itu, badannya harus agak condong ke depan supaya egrangnya jalan!". YouTube berfungsi sebagai pelatih bayangan yang memberikan standar visual. Guru PJOK berperan sebagai fasilitator yang menjaga keselamatan dan memotivasi siswa yang gagal mencoba. Kombinasi referensi digital dan praktik fisik ini mempercepat proses penguasaan keterampilan motorik siswa.
Guru juga mengajak siswa merekam permainan mereka sendiri, lalu mengunggahnya kembali ke kanal YouTube sekolah sebagai dokumentasi pelestarian budaya. Siswa merasa bangga menjadi bagian dari kampanye melestarikan permainan rakyat. Mereka menyadari bahwa permainan tradisional ternyata sangat seru, menyehatkan, dan membutuhkan strategi yang tidak kalah rumit dibandingkan game di ponsel pintar mereka.
Inisiatif ini membuktikan bahwa teknologi modern seperti YouTube tidak harus mematikan budaya lokal, justru bisa menjadi alat ampuh untuk merevitalisasinya. Dengan menjembatani kearifan lokal melalui media yang disukai anak-anak (video), sekolah berhasil menanamkan rasa cinta budaya sekaligus menjaga kebugaran jasmani siswa melalui aktivitas gerak yang penuh kegembiraan.
###
Penulis: Maulidia Evi Aprilia