Pemanfaatan ChatGPT sebagai Asisten Belajar di Sekolah Dasar
Dalam beberapa tahun terakhir,
penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin berkembang dalam berbagai bidang,
termasuk pendidikan. Salah satu teknologi yang banyak dibicarakan adalah ChatGPT,
sebuah sistem berbasis bahasa yang mampu menjawab pertanyaan, memberi
penjelasan, bahkan menyediakan contoh materi belajar. Di sekolah dasar, ChatGPT
dapat dimanfaatkan sebagai asisten belajar yang membantu guru dan
siswa memahami konsep secara lebih mudah. Namun, integrasinya harus dilakukan
dengan hati-hati, karena siswa SD masih berada pada tahap perkembangan kognitif
awal.
Guru dapat menggunakan ChatGPT
untuk membantu mempersiapkan materi pembelajaran. Misalnya, ketika guru ingin
menjelaskan konsep pecahan, ChatGPT dapat memberikan berbagai contoh soal
dengan tingkat kesulitan berbeda. Guru juga dapat meminta alternatif penjelasan
yang lebih sederhana untuk membantu siswa yang kemampuan membacanya masih
berkembang. Dengan cara ini, ChatGPT menjadi alat bantu yang menghemat waktu
persiapan ajar.
Selain itu, ChatGPT dapat
menjadi media untuk eksplorasi pertanyaan siswa. Siswa SD sering kali memiliki
rasa ingin tahu yang tinggi dan suka bertanya tentang banyak hal. Guru dapat
menunjukkan cara mengajukan pertanyaan yang baik kepada ChatGPT, misalnya:
“Mengapa hujan turun?” atau “Apa yang terjadi jika matahari tidak bersinar?”
Jawaban AI dapat menjadi pemantik diskusi, bukan jawaban akhir. Melalui
kegiatan ini, siswa belajar mengajukan pertanyaan kritis dan mengevaluasi
informasi.
Dalam pembelajaran menulis,
ChatGPT dapat digunakan sebagai pendamping. Misalnya, guru meminta siswa
menulis paragraf tentang hewan kesukaan mereka. Setelah siswa menulis, guru
dapat menggunakan ChatGPT untuk menunjukkan contoh paragraf yang baik, lalu siswa
membandingkan karya mereka. Tujuannya bukan menyalin, tetapi belajar
memperbaiki struktur kalimat dan memperkaya kosakata.
Namun, penggunaan ChatGPT pada
siswa SD harus dibatasi. Siswa tidak bisa berinteraksi langsung tanpa bimbingan
karena mereka belum dapat memilah informasi yang tepat. Guru harus berperan
sebagai mediator. ChatGPT tidak boleh menjadi sumber utama, tetapi sebagai alat
tambahan untuk memperkuat pemahaman siswa.
Selain itu, guru perlu
menjelaskan bahwa jawaban AI tidak selalu 100% benar. Ini bisa menjadi
kesempatan untuk melatih literasi digital sejak dini—siswa diajak membandingkan
jawaban ChatGPT dengan buku dan fakta nyata. Kegiatan ini membangun kemampuan
evaluatif yang penting bagi generasi masa depan.
Pada akhirnya, ChatGPT adalah
peluang baru dalam pendidikan dasar jika digunakan dengan bijak. Teknologi ini
dapat memperkaya sumber belajar, memudahkan persiapan materi, dan menumbuhkan
rasa ingin tahu siswa. Dengan pendampingan guru dan pemahaman batasan yang
jelas, ChatGPT dapat menjadi asisten belajar yang efektif di era digital.
Penulis: Windha Ana Sevia